Naik MRT Lalu Lanjut Ojol atau Taksol? Memang Ada yang Masih Heran?

Di kota seperti Jakarta, perjalanan itu jarang sekali sesederhana “berangkat lalu sampai”.

Yang sering terjadi justru sebaliknya:
berangkat dari rumah, jalan kaki dulu, naik MRT, turun di stasiun, lalu lanjut lagi naik ojek online atau taksi online supaya benar-benar sampai ke tujuan akhir.

Dan anehnya, sampai hari ini masih ada juga pertanyaan seperti ini:

“Apakah temans di sini ada pengguna MRT lalu feeder-nya menggunakan ojol/taksol?”

Jujur, saya agak bingung kalau masih ada yang bertanya seperti itu seolah itu sesuatu yang asing.

Karena kalau kita benar-benar hidup, bergerak, dan beraktivitas di Jakarta, maka jawabannya bukan sekadar “ada”.

Tapi:

banyak. Sangat banyak. Bahkan itu sudah jadi pola perjalanan yang normal.


Transportasi Kota Itu Bukan Lagi Soal Satu Kendaraan

Dulu mungkin pola berpikir kita masih sederhana:
kalau mau pergi ya naik kendaraan dari rumah langsung ke tujuan.

Kalau punya motor, ya naik motor.
Kalau punya mobil, ya naik mobil.
Kalau tidak punya, baru cari kendaraan umum.

Tapi kota besar sudah berubah.

Hari ini, mobilitas warga kota tidak lagi bergantung pada satu kendaraan saja.
Perjalanan sekarang lebih mirip rangkaian sambungan.

Bisa jadi seperti ini:

  • dari rumah jalan kaki ke titik jemput,
  • lanjut naik MRT,
  • turun di stasiun tujuan,
  • lalu pesan ojol,
  • sampai kantor.

Atau:

  • naik MRT dari pusat kota,
  • turun dekat rumah,
  • lanjut taksi online karena bawa barang banyak.

Atau bahkan:

  • MRT dulu,
  • lanjut ojol ke tempat rapat,
  • setelah itu taksol ke lokasi berikutnya.

Dan semua itu sangat biasa.

Jadi kalau masih ada yang melihat kombinasi MRT + ojol/taksol sebagai sesuatu yang aneh, mungkin yang tertinggal bukan warganya, tapi cara pandangnya.


MRT Itu Cepat, Tapi Tidak Selalu Sampai Depan Pintu Tujuan

Salah satu kesalahan orang dalam membayangkan transportasi publik adalah menganggap bahwa kalau sudah ada MRT, maka semua urusan perjalanan otomatis selesai.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

MRT memang sangat membantu.
Cepat, relatif nyaman, lebih teratur, dan jauh lebih bisa diprediksi dibanding naik kendaraan pribadi di tengah kemacetan Jakarta.

Tapi MRT hanya membawa kita ke stasiun.
Sementara tujuan kita sering kali bukan stasiun.

Tujuan kita bisa saja:

  • kantor yang masuk lagi ke dalam kawasan gedung,
  • rumah yang ada di jalan lingkungan,
  • tempat pertemuan yang masih beberapa kilometer,
  • sekolah anak,
  • rumah saudara,
  • rumah sakit,
  • atau tempat kegiatan lain yang tidak tersambung langsung dengan jalur MRT.

Di sinilah kebutuhan akan last mile atau perjalanan lanjutan menjadi sangat penting.

Dan di Jakarta hari ini, jawaban paling praktis untuk itu sering kali adalah:

ojek online dan taksi online.


Pengalaman Darustation: Kalau Sendiri dan Jalan Sedang Macet, Ojol Itu Sangat Masuk Akal

Dari banyak pengamatan lapangan yang sering muncul dalam pengalaman Darustation, ada satu pola yang sangat mudah dibaca.

Kalau seseorang bepergian sendirian, lalu kondisi jalan sedang padat atau macet, maka ojek online hampir selalu jadi pilihan yang paling logis.

Kenapa?

Karena Jakarta itu kadang bukan soal jarak, tapi soal waktu.

Jarak 3 kilometer bisa terasa dekat di peta, tapi bisa sangat melelahkan kalau:

  • jalan sedang padat,
  • trotoar tidak nyaman,
  • cuaca panas,
  • atau waktu sedang mepet.

Dalam kondisi seperti itu, ojek online menawarkan sesuatu yang sangat penting bagi warga kota:

kecepatan dan kepastian.

Kita turun MRT, buka aplikasi, pesan motor, lalu lanjut.

Tidak perlu bingung cari angkot.
Tidak perlu menebak-nebak kendaraan apa yang lewat.
Tidak perlu buang waktu.

Kalau sedang ada urusan prioritas seperti:

  • mengejar jam masuk kantor,
  • menghadiri rapat,
  • datang ke kajian,
  • menjemput anak,
  • atau sekadar ingin cepat sampai rumah,

maka memilih ojol itu bukan soal gaya.
Itu soal efisiensi.

Dan dalam hidup kota, efisiensi kadang jauh lebih berharga daripada gengsi.


Tapi Tidak Semua Orang Cocok Naik Ojol, dan Itu Wajar

Tentu saja tidak semua perjalanan cocok menggunakan ojek online.

Ada kondisi-kondisi tertentu di mana taksi online justru jauh lebih tepat.

Misalnya:

  • pergi bersama pasangan,
  • bepergian dengan anak kecil,
  • membawa orang tua,
  • pulang malam dan ingin lebih nyaman,
  • membawa banyak barang,
  • atau sedang membawa koper dan bawaan besar.

Kalau seperti itu, naik motor jelas bukan pilihan paling masuk akal.

Dalam banyak kasus, taksi online memberi solusi yang lebih manusiawi:
lebih teduh, lebih tenang, lebih aman untuk barang, dan lebih nyaman kalau perjalanannya dilakukan bersama-sama.

Dan ini penting untuk dipahami:

pilihan moda transportasi itu bukan soal mana yang paling keren, tapi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan saat itu.

Kalau sendiri dan butuh cepat, ojol sangat cocok.

Kalau membawa barang, bersama keluarga, atau butuh kenyamanan ekstra, taksol lebih relevan.

Sederhana sebenarnya.


Kota Modern Itu Harus Punya Sistem yang Nyambung, Bukan Sekadar Infrastruktur yang Dipamerkan

Sering kali kita terlalu sibuk membanggakan infrastruktur, tapi lupa bertanya:
apakah infrastruktur itu benar-benar memudahkan hidup warga?

Karena buat masyarakat, yang penting bukan sekadar:
“Wah, Jakarta punya MRT.”

Tapi:

“Apakah saya bisa sampai tujuan dengan mudah?”

Itu pertanyaan utamanya.

Kalau setelah turun MRT orang masih bingung harus lanjut naik apa, masih harus jalan terlalu jauh, atau masih kesulitan menjangkau lokasi akhir, maka sistem itu belum sepenuhnya ramah pengguna.

Transportasi publik yang baik bukan hanya soal rel, kereta, atau stasiun yang bersih.
Transportasi publik yang baik adalah yang terhubung.

Terhubung ke:

  • jalan kaki,
  • bus pengumpan,
  • area jemput,
  • ojek online,
  • taksi online,
  • dan kebutuhan nyata masyarakat sehari-hari.

Jadi jangan pernah remehkan peran ojol dan taksol dalam ekosistem transportasi kota.

Karena kadang, justru dua layanan itulah yang membuat MRT benar-benar “berguna” sampai akhir perjalanan.


Warga Kota Tidak Butuh Teori Rumit. Mereka Butuh Solusi yang Jalan

Buat orang yang setiap hari harus bergerak dari satu titik ke titik lain, urusan transportasi itu sangat sederhana.

Mereka tidak butuh debat panjang.

Yang mereka butuhkan hanya ini:

  • bisa berangkat tepat waktu,
  • tidak terlalu capek,
  • tidak terlalu mahal,
  • aman,
  • dan sampai tujuan tanpa drama.

Kalau MRT membantu bagian perjalanan utama, lalu ojol atau taksol membantu bagian akhirnya, ya itu berarti sistemnya sedang bekerja.

Itu artinya masyarakat sedang menemukan pola paling realistis untuk hidup di kota yang padat.

Dan menurut saya, itu justru kabar baik.

Karena artinya warga kota sudah mulai lebih rasional dalam memilih moda transportasi.
Tidak fanatik pada satu moda, tidak gengsi, dan tidak memaksakan satu cara untuk semua situasi.

Hari ini orang makin paham:
kadang yang dibutuhkan adalah kereta.
Kadang motor.
Kadang mobil.

Dan semuanya sah, selama itu membantu hidup jadi lebih efisien.


Jadi, Masih Heran Ada Orang Naik MRT Lalu Lanjut Ojol atau Taksol?

Kalau pertanyaannya sekarang masih:

“Apakah ada pengguna MRT yang feeder-nya pakai ojol atau taksol?”

Maka jawaban paling jujurnya adalah:

bukan cuma ada, tapi itu sudah jadi kebiasaan baru warga kota.

Itulah wajah mobilitas Jakarta hari ini.

Naik MRT bukan berarti anti-ojol.
Naik transportasi publik bukan berarti harus menolak transportasi online.
Justru keduanya bisa saling melengkapi.

Dan mungkin inilah yang masih belum dipahami sebagian orang:

transportasi modern itu bukan soal memilih satu dan menolak yang lain,

tetapi soal menghubungkan semuanya supaya hidup warga jadi lebih mudah.


Penutup

Pada akhirnya, orang tidak naik MRT untuk “sekadar naik MRT”.

Orang naik MRT karena ingin sampai tujuan dengan lebih baik.

Dan kalau untuk benar-benar sampai ke tujuan itu masih perlu bantuan ojek online atau taksi online, maka itu bukan masalah.

Justru itu tanda bahwa warga kota sedang memakai sistem transportasi secara cerdas.

Kalau sendiri dan jalan macet, pilih ojol.
Kalau bersama keluarga atau bawa koper, pilih taksol.
Kalau hujan, pilih mobil.
Kalau buru-buru, pilih motor.

Tidak usah dibuat rumit.

Karena di kota seperti Jakarta, yang terpenting bukan kendaraan apa yang kita pakai,
tetapi:

apakah kita bisa sampai tujuan dengan aman, nyaman, dan tidak ribet.

Dan bagi banyak orang hari ini, jawabannya memang sering dimulai dari pola sederhana:

naik MRT, lalu lanjut ojol atau taksol.

Add a Comment