Youth-Powered Circular Future Implementasi Ekonomi Sirkular Indonesia Berbasis Strategi Global
📌 Ekonomi Sirkular: Dari Jargon ke Kehidupan Sehari-hari
Istilah circular economy semakin sering kita dengar di webinar, ruang komunitas, bahkan obrolan warung kopi. Meski terdengar akademis, konsep ini sebenarnya dekat dengan keseharian: cara kita belanja, memakai barang, dan memperlakukan limbah.
Selama ini, sistem kita masih linear: take – make – waste (ambil → produksi → konsumsi → buang). Hasilnya? Pertumbuhan cepat, tapi sampah menumpuk dan bumi megap-megap.
🌱 Sebagai alternatif, hadir circular economy: sumber daya dipakai selama mungkin, nilai produk terus berputar, dan limbah ditekan sejak tahap desain. Bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga peluang usaha dan masa depan pekerjaan.

🌍 Jessica Laihad: Dari Harvard ke Triftin, Dari Data Center ke Circular Lifestyle
Jessica Laihad, lulusan Harvard dan mantan manajer di Meta, kini CEO Triftin, membawa perspektif global.
“Di balik setiap klik, ada emisi. Bahkan saat kamu stalking mantan, bumi ikut kepanasan,” katanya, membuat audiens nyengir sekaligus mikir.
Jessica menekankan tiga kekuatan anak muda: daya beli, kreativitas bisnis, dan pengaruh media sosial.
Kalau bisa bikin tren skincare viral, kenapa tidak gaya hidup sirkular?

🔥 Dimas Dwi Pangestu: Membakar Sampah, Bukan Harapan
Dari GreenSkill ID, Dimas Dwi Pangestu membawa
inovasi lokal: Incinerator Hydroburner – IBE 2.0.
Sampah non-organik dibakar dengan minyak bekas dan air, tanpa asap. Hasilnya? Eco
batako dan pupuk granula.
“Kami mulai dari keluarga. Karena kalau nunggu pemerintah, bisa-bisa maggot-nya pensiun duluan,” ujar Dimas, menyindir birokrasi yang lamban.
Pesannya jelas: ekonomi sirkular bukan teori, tapi praktik sehari-hari. Edukasi keluarga jadi fondasi, karena kalau dapur saja berantakan, jangan mimpi bicara “Indonesia Emas 2045.”

🧠 Krisis Identitas Pemuda: Siapa Aku, Selain Pengguna Shopee?
Dimas menyinggung soal krisis identitas pemuda Indonesia:
banyak yang tidak kenal potensi diri, sibuk ikut arus, dan akhirnya bingung
arah.
Jessica menambahkan, tanpa arah yang jelas, gerakan anak muda sering jadi
“ramai di awal, sepi di akhir.”
🛠️ Dari 4R ke Upcycle: Fondasi Ekonomi Sirkular
Ekonomi sirkular berdiri di atas prinsip 4R:
- Reduce: kurangi plastik sekali pakai.
- Reuse: gunakan kembali barang layak pakai.
- Recycle: olah limbah jadi bahan baru.
- Recover: ambil energi dari limbah.
Tambahan penting: Upcycle. Barang bekas diubah jadi produk bernilai lebih tinggi. Contoh: spanduk jadi tas belanja, kayu palet jadi furnitur, komputer tua jadi server.
Di sini, teknisi berperan besar: memperbaiki, meng-upgrade, bahkan memodifikasi perangkat elektronik agar tidak jadi e-waste. Mereka adalah tulang punggung green jobs.
💼 Green Jobs dan Green Skills: Masa Depan Dunia Kerja
Ekonomi sirkular membuka peluang kerja baru:
- Teknisi berkelanjutan
- Wirausaha upcycle
- Pengelola limbah komunitas
- Konsultan keberlanjutan
Semua butuh green skills: kesadaran lingkungan, literasi teknologi, inovasi berkelanjutan. Ini bukan tren, tapi kebutuhan masa depan.
🗣️ Tanggapan dari darustation
Sebagai media yang konsisten mengangkat isu keberlanjutan, darustation melihat diskusi ini bukan sekadar seminar daring yang berakhir di catatan Zoom. Ada beberapa poin penting yang patut digarisbawahi:
- Kekuatan anak muda nyata, bukan simbolik. Webinar ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya bisa menjadi peserta, tetapi juga penggerak. Dimas dengan inovasi lokalnya, Jessica dengan perspektif globalnya, sama-sama membuktikan bahwa anak muda bisa menjembatani teori dan praktik.
- Ekonomi sirkular harus diterjemahkan ke konteks Indonesia. Konsep seperti extended producer responsibility atau low-carbon economy tidak boleh berhenti di dokumen kebijakan. Harus ada adaptasi ke UMKM, komunitas, dan keluarga. Inovasi seperti IBE 2.0 adalah contoh nyata.
- Gerakan harus berkelanjutan. Banyak gerakan anak muda yang “ramai di awal, sepi di akhir.” Tantangan terbesar bukan memulai, tetapi menjaga konsistensi. Di sinilah pentingnya ekosistem pendukung: media, komunitas, akademisi, dan pemerintah.
- Green jobs bukan jargon, tapi peluang. Dari teknisi elektronik yang memperpanjang umur perangkat, hingga wirausaha upcycle yang mengubah limbah jadi produk kreatif, semua ini adalah lapangan kerja masa depan. Anak muda harus melihatnya sebagai kesempatan, bukan beban.
“Circular future bukan sekadar mimpi global, tapi jalan lokal yang harus kita tempuh bersama. Dari dapur keluarga hingga data center raksasa, dari maggot hingga Harvard, semua punya peran. Yang penting: jangan berhenti di jargon, bergeraklah di kehidupan nyata.” — darustation editorial
🎯 Penutup: Circular Economy = Daur Akal
Pesan dari Dimas dan Jessica sederhana tapi pedas: ekonomi
sirkular bukan sekadar daur ulang, tapi daur akal.
Kalau cuma berharap plastik didaur ulang, ya tetap buang-buang. Harus ada repair,
reuse, repurpose, dan tentu saja, edukasi konsisten.
Circular future adalah masa depan di mana pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pemulihan lingkungan. Masa depan ini dibangun lewat edukasi, kolaborasi lintas sektor, dan peran aktif anak muda.

✍️ Catatan
Dimas dan Jessica adalah dua sisi koin: satu membumi dengan maggot dan eco batako, satu melangit dengan Harvard dan data center. Tapi keduanya sepakat: gerakan anak muda harus lebih dari sekadar ramai di Zoom. Harus ada arah, akal, dan keberlanjutan. (ds)










