WEAPONS – Kisah dari Enam Mata yang Menyaksikan Teror di Maybrook
|Penulis : Mohamad Sobari
Bayangkan, suatu malam di kota kecil Maybrook, tepat pukul 2:17 dini hari, semua kecuali satu dari 18 anak di kelas sekolah dasar yang sama… bangun dari tempat tidur, melangkah keluar rumah, lalu menghilang ke dalam gelap. Tak ada teriakan. Tak ada tanda perlawanan. Hanya keheningan yang mencekam.
Inilah momen yang memicu spiral kekacauan, paranoia, dan amarah yang menjadi inti cerita film horor terbaru karya Zach Cregger, Weapons. Uniknya, film ini bukan sekadar kisah tunggal—melainkan mozaik cerita dari enam karakter berbeda, yang perlahan menyatukan potongan misteri menjadi gambaran mengerikan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Maybrook.

1. Justine Gandy – Guru yang Dicurigai
(Gradasi suasana: bingung → terpojok)
Justine (Julia Garner) hanyalah guru yang mencoba mengajar dan melindungi
murid-muridnya. Tapi saat 17 anak di kelasnya menghilang, semua tudingan
mengarah padanya. Bayangkan: satu-satunya murid yang tidak hilang adalah Alex—dan
Justine tahu, rumah anak itu menyimpan sesuatu yang tidak beres.
Melalui matanya, kita melihat kilasan awal teror: orang tua Alex duduk kaku di sofa, seperti patung hidup. Tak berkedip, tak bersuara. Dan dari situ, misteri mulai menguap—tapi bukan dengan jawaban yang menenangkan.
2. Archer Graff – Ayah yang Salah Paham
(Suasana: penuh prasangka → penyesalan)
Archer (Josh Brolin) awalnya yakin Justine terlibat. Dari perspektifnya, ia
melihat seorang guru yang “terlalu dekat” dengan masalah. Namun saat kejadian
di pom bensin—yang ternyata dipicu oleh kekuatan di luar nalar—Archer sadar:
musuh mereka bukan Justine, melainkan sesuatu yang lebih gelap.
3. Paul Morgan – Polisi yang Retak
(Suasana: frustrasi → tak berdaya)
Paul (Alden Ehrenreich) adalah polisi yang berusaha menjaga ketertiban di
tengah kota yang nyaris pecah. Tapi saat rahasia tentang Gladys mulai
terbongkar, ia sendiri masuk ke dalam daftar “korban yang dikendalikan”.
Perjalanannya menjadi bukti bahwa hukum tak berarti apa-apa saat berhadapan
dengan sihir kuno.
4. Andrew Marcus – Kepala Sekolah yang Terperangkap
(Suasana: rasional → menjadi pion)
Marcus (Benedict Wong) mencoba bersikap bijak—memanggil wali Alex untuk
pemeriksaan. Tapi yang datang justru Gladys (Amy Madigan), wanita tua dengan
dandanan ala badut yang menyimpan rahasia mengerikan. Adegan “ranting berduri +
rambut korban” di rumah Marcus menjadi salah satu momen paling disturbing di
film ini, memperlihatkan bagaimana seseorang bisa berubah total di bawah
kendali kutukan.
5. Alex Lilly – Saksi sekaligus Kunci
(Suasana: polos → pemberani)
Alex (Cary Christopher) adalah anak yang tak ikut menghilang. Dari POV-nya,
kita tahu bahwa Gladys telah menanam pohon ajaib di rumahnya—alat untuk
mengendalikan orang dan memanggil anak-anak ke ruang bawah tanah. Walau
ketakutan, Alex menjadi tokoh penentu di akhir, memutar balik sihir Gladys
untuk mengalahkannya.
6. Gladys – Penyihir yang Memanen Hidup
(Suasana: dingin → haus kekuasaan)
Tak banyak film horor modern yang punya antagonis setegas Gladys. Ia bukan
sekadar “penjahat misterius”—ia adalah predator yang sabar, mengisap kekuatan
hidup korban untuk memperpanjang umurnya. Tak ada monolog panjang. Tak ada
penjelasan detail. Justru itulah yang membuatnya makin menyeramkan.
Finale yang Brutal
Pertarungan klimaks terjadi di rumah Alex, di mana Archer dan Justine harus melewati “penjaga” yang sudah dikutuk—termasuk orang tua Alex sendiri. Dalam kekacauan itu, Alex mengambil alih kendali sihir Gladys, memanggil seluruh anak yang ia tawan untuk menyerangnya. Adegan anak-anak berlari di jalan malam, mengejar Gladys sampai mencabik-cabiknya, menjadi penutup yang meninggalkan campuran rasa puas sekaligus ngeri.
Catatan Emosional dari Sang Sutradara
Meski penuh darah dan jumpscare, Weapons ternyata lahir dari tempat yang personal. Zach Cregger menulis naskah ini setelah kehilangan sahabat dekatnya secara mendadak. Bagi Cregger, proses menulis adalah cara untuk memproses duka, bukan sekadar menciptakan tontonan.
Bahkan judul Weapons sendiri punya makna ganda—tentang bagaimana manusia bisa menjadi senjata bagi satu sama lain, entah lewat kekuatan fisik, manipulasi, atau trauma yang diwariskan.

Kesimpulan – Dan Kenapa Saya Nonton
Saya awalnya menonton karena penasaran dengan judulnya: “Weapons”, yang berarti senjata. Senjata seperti apa? Apakah senjata fisik—pisau, senapan—atau sesuatu yang lebih abstrak?
Setelah menonton, saya paham… senjata di sini adalah apa saja yang bisa digunakan untuk melukai atau mengendalikan orang lain—bisa rasa takut, bisa manipulasi, bahkan duka yang belum selesai. Dalam film ini, “senjata” itu berbentuk sihir kuno yang memanfaatkan kelemahan manusia, tapi maknanya jauh lebih luas.
Sebagai penonton, saya merasa Weapons bukan cuma “film horor seram” yang sekadar menakut-nakuti. Ini seperti puzzle berdarah yang perlahan kita susun dari kacamata enam orang berbeda, hingga akhirnya kita sadar: teror terbesar bukan hanya di luar sana… tapi juga di dalam hati manusia.
Kalau kamu mencari horor yang segar, penuh misteri, tapi tetap emosional—Weapons wajib masuk daftar tontonanmu bulan ini. (ds)
