Stasiun Jatake Resmi Dibuka: Titik Baru di Jalur KRL Rangkasbitung

🚆 Hari ini, Rabu, 28 Januari 2026, menjadi hari penting bagi mobilitas warga Tangerang Selatan–Jakarta. Stasiun Jatake di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang resmi dioperasikan dan mulai melayani aneka rute kereta Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung. Ini bukan sekadar stasiun baru — tapi bagian dari Transit Oriented Development (TOD) yang menghubungkan kawasan BSD City dengan jaringan KRL jabodetabek yang semakin padat penggunaannya. (silanews.com)

Stasiun ini berdiri di KM 37+045 dengan bangunan tiga lantai berperon panjang sekitar 250 meter, dirancang melayani hingga puluhan ribu penumpang sehari dan menambah distribusi turun-naik penumpang agar perjalanan lebih efisien. (Antara News)


🛠️ Bagaimana dengan Infrastruktur Persinyalan di Jalur Rangkasbitung?

Sebelum stasiun ini dibuka, isu infrastruktur di jalur Green Line Tanah Abang–Rangkasbitung sudah menjadi topik hangat. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengisyaratkan pentingnya upgrade sistem persinyalan untuk mendukung frekuensi kereta yang lebih padat. Lewat penguatan sinyal seperti yang direncanakan, waktu tunggu kereta bisa dipersingkat dari sekitar 10 menit menjadi kurang dari 5 menit di jam sibuk. Sinyal yang lebih canggih juga memungkinkan kereta berlalu-lalang dengan aman tanpa saling menunggu terlalu lama. (Katadata)

Ini krusial karena tanpa sistem sinyal yang andal, penambahan stasiun dan penumpang saja belum cukup — operasional bisa terhambat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.


🚉 Padatnya Pengguna KRL: Mengapa Tambah Fasilitas Itu Penting?

Tahun ke tahun, jumlah penumpang di jalur ini terus meningkat signifikan — dari puluhan juta per tahun menjadi puluhan juta lebih pada 2025. Lonjakan itu mencerminkan KRL sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat Jabodetabek, khususnya bagi warga Tangerang yang bekerja di Jakarta. (silanews.com)

Pengguna anker (panggilan pengguna KRL di media sosial) secara umum menyambut baik penambahan perjalanan KRL karena bisa mengurangi tekanan di peron dan gerbong saat jam sibuk. “Bagus ya kalau ditambah, pilihannya jadi nambah… semoga bisa sedikit ngurangi desak-desakan waktu pulang kerja,” kata salah satu pengguna. (detiknews)


🚆 Bisa Tidak Keretanya 12 Gerbong & Frekuensi 5 Menit Sekali?

Pertanyaan besar yang sering muncul: apakah KRL bisa pakai 12 kereta per rangkaian? Finansial dan teknis, rencana penambahan rangkaian KRL sudah disetujui oleh pemerintah, dengan alokasi dana hingga Rp 5 triliun untuk sekitar 30 rangkaian baru, yang akan membantu menambah kapasitas layanan secara keseluruhan. (detiknews)

Namun perlu dicatat:

  • Rangkaian 12 kereta secara fisik mungkin dibatasi oleh panjang peron di banyak stasiun (termasuk yang baru dibuka) — belum semua peron dirancang untuk 12 kereta penuh.
  • Frekuensi 5 menit sekali sangat tergantung pada kapasitas sinyal, headway per kereta, dan ketersediaan rangkaian. Kalau sinyal sudah di-upgrade seperti direncanakan, frekuensi bisa dipadatkan secara bertahap — tapi bukan semata urusan jumlah kereta. (Katadata)

Artinya, penambahan rangkaian train set saja tidak otomatis menjamin kereta lewat setiap lima menit — itu butuh sinergi sinyal, manajemen operasi, dan jadwal yang optimal.


📣 Suara Masyarakat & Media Sosial

Di berbagai platform (berita media online dan sosial), sentimen umum positif tapi penuh harap:

✔️ Masyarakat menyambut baik penambahan jadwal dan stasiun baru karena membantu load distribution perjalanan jam sibuk. (detiknews)
✔️ Namun, pengguna juga berharap penanganan infrastruktur (khususnya sinyal dan operasional) bisa lebih cepat. (Katadata)
✔️ Di media sosial juga kerap muncul cerita suasana padat di jam sibuk, mendorong wacana tambah armada dan waktu tempuh lebih efisien. (Magdalene.co)

Komentar ini mencerminkan realita pengguna: mereka butuh layanan yang tidak hanya cepat, tapi juga nyaman dan aman.


đź§  Saran & Masukan dari Darustation

Berdasarkan diskursus komunitas dan wacana transportasi publik ✔️:

1. Fokus pada integrasi sinyal dan traffic management.
Darustation menilai bahwa sebelum mengejar frekuensi 5 menit, sistem persinyalan dan jadwal operasional harus menjadi prioritas. Tanpa itu, kereta sering terlambat atau terjadi bottleneck.

2. Perpanjang jam layanan dan optimalkan peak hour.
Jika memungkinkan, KRL bisa dievaluasi jam operasionalnya supaya beban tersebar merata, terutama di pagi dan sore.

3. Edukasi pengguna dan penerapan crowd management.
Bukan sekadar menambah kereta; perlu juga kebijakan di stasiun untuk alur naik-turun penumpang yang lebih disiplin dan aman.

4. Perencanaan jangka panjang TOD yang berkelanjutan.
Stasiun baru seperti Jatake harus dilengkapi dengan akses feeder yang baik (misalnya bus/angkot terintegrasi) agar mobilitas antar moda makin efisien.


✨ Kesimpulan

Peresmian Stasiun Jatake hari ini bukan hanya soal fasilitas baru, tapi gambaran nyata transformasi KRL dalam melayani jutaan anker setiap hari. Dengan kereta yang terus bertambah, jadwal yang dievaluasi, dan dukungan infrastruktur modern (termasuk sinyal), harapannya jaringan Commuter Line Rangkasbitung bisa lebih andal, cepat, dan nyaman — tanpa menambah waktu tempuh meski ada stasiun baru. (silanews.com)  (ds)

Add a Comment