Potret Komuter Rangkasbitung – Jakarta: Antara Penghasilan, Ongkos Transport, dan Parkiran Stasiun

Setiap pagi, ribuan orang dari jalur barat KRL berangkat menuju Jakarta. Mereka inilah yang sering disebut sebagai commuter Rangkasbitung. Tapi jangan salah, sebutan itu bukan hanya untuk penumpang yang naik dari Stasiun Rangkasbitung saja, melainkan juga mencakup seluruh pengguna KRL di jalur ini:
👉 mulai dari Rangkasbitung, Cikoya, Maja, Tigaraksa, Tenjo, Daru, Cilejit, Parung Panjang, Cicayur, Cisauk, Serpong, Rawabuntu, Sudimara, Jurangmangu, Pondok Ranji, Kebayoran, Palmerah, hingga akhirnya tiba di Tanah Abang.

Mereka datang dari berbagai profesi: pekerja kantoran di pusat Jakarta, karyawan pabrik, pedagang Tanah Abang, guru, ASN, hingga pekerja sektor informal. Satu benang merahnya: rela menempuh perjalanan panjang demi penghasilan yang relatif lebih baik dibanding daerah asalnya.


Penghasilan vs Biaya Transportasi

  • Penghasilan: berpatokan pada UMK Lebak (Rp3,1 juta) hingga UMP DKI (Rp5,39 juta). Banyak komuter memilih bekerja di Jakarta karena gap penghasilan itu.
  • Biaya Transportasi Harian:
    • KRL Rangkasbitung – Tanah Abang: Rp8.000 sekali jalan (Rp16.000 PP).
    • Ongkos rumah ke stasiun (angkot/ojek): Rp6.000–12.000 sekali jalan.
    • Ongkos stasiun tujuan ke kantor: Rp5.000 (mikrotrans) atau Rp10.000–20.000 (ojek daring).
    • Total harian: Rp27.000–40.000 → sebulan bisa Rp594.000–880.000.

Bagi pekerja dengan gaji sekitar Rp3–5 juta, angka ini memakan 15–20% gaji bulanan. Berat, tapi masih dianggap “paling logis” dibanding bawa kendaraan pribadi ke pusat Jakarta.


Parkiran Stasiun: Dilema Nyaman tapi Bikin Macet

Fakta lapangan: parkiran motor di banyak stasiun jalur barat (terutama Rangkasbitung, Maja, Parung Panjang, hingga Serpong) selalu penuh. Banyak yang lebih memilih bawa motor sendiri lalu parkir, karena angkot/ojek feeder dianggap tidak efisien.

Namun parkiran yang luas justru mendorong ketergantungan pada kendaraan pribadi. Dampaknya:

  • Jalan sekitar stasiun makin macet.
  • Sirkulasi drop-off tidak lancar.
  • Fungsi transportasi massal jadi kurang maksimal.

Usulan Solusi

  1. Kurangi area parkir besar di stasiun, ganti dengan drop-off zone untuk antar-jemput cepat.
  2. Perbanyak feeder resmi (angkot trayek ke stasiun, shuttle bus perumahan).
  3. Integrasi tarif seperti JakLingko: sekali bayar, bisa gabung feeder + KRL.
  4. Penataan akses jalan & trotoar agar aman untuk pejalan kaki dan pesepeda menuju stasiun.

Suara Darustation × Mohamad Sobari

“Komuter Rangkasbitung itu bukan hanya yang naik dari ujung, tapi seluruh penumpang jalur barat—dari Cikoya sampai Palmerah. Mereka berjuang setiap hari, bayar ongkos, bayar waktu, bahkan bayar tenaga ekstra. Pemerintah harus melihat persoalan bukan sekadar menambah rangkaian KRL, tapi juga menata **akses ke stasiun, sistem feeder, dan pola parkir. Kalau parkiran terus diperluas, orang akan tetap bawa motor. Justru yang dibutuhkan adalah sistem drop-off dan feeder yang terintegrasi. Dengan begitu, KRL benar-benar jadi tulang punggung mobilitas rakyat, bukan hanya opsi darurat ketika jalanan macet.”


Penutup

Komuter jalur Rangkasbitung–Jakarta adalah cermin perjuangan kelas pekerja di penyangga ibukota. Mereka membawa mimpi, tenaga, dan penghasilan pulang ke kampung tiap malam. Tapi beban biaya transportasi, parkiran yang sesak, dan integrasi feeder yang belum maksimal masih jadi PR besar.

Jika solusi transportasi berani dijalankan—subsidi tepat sasaran, feeder tertata, parkir dikendalikan—maka perjalanan panjang dari Rangkasbitung ke Tanah Abang bisa terasa lebih manusiawi: lebih murah, lebih cepat, dan lebih adil.

📊 Ringkasan Biaya & Tips Komuter Jalur Rangkasbitung – Tanah Abang

Stasiun Asal Ongkos KRL → Tanah Abang (sekali jalan) Perkiraan Ongkos Harian (termasuk first & last mile) Kisaran Bulanan (22 hari kerja) Tips Transportasi
Rangkasbitung Rp8.000 Rp27.000 – 40.000 Rp594.000 – 880.000 Lebih hemat kalau park & ride motor (±Rp24–28 ribu/hari) daripada ojek feeder tiap hari.
Cikoya – Maja Rp7.000 – 8.000 Rp25.000 – 38.000 Rp550.000 – 836.000 Gunakan feeder perumahan atau angkot lokal → stasiun. Drop-off lebih cepat ketimbang parkir.
Tigaraksa – Tenjo – Daru Rp6.000 – 7.000 Rp23.000 – 35.000 Rp506.000 – 770.000 Pilih antar-jemput keluarga (drop-off) agar ongkos lebih ringan & menghindari parkir penuh.
Cilejit – Parung Panjang Rp5.000 – 6.000 Rp21.000 – 32.000 Rp462.000 – 704.000 Park & ride motor masih populer, tapi bila akses ojek online lancar → bisa lebih fleksibel.
Cicayur – Cisauk – Serpong – Rawabuntu Rp3.000 – 4.000 Rp17.000 – 25.000 Rp374.000 – 550.000 Manfaatkan shuttle BSD/Alam Sutera atau feeder resmi. Integrasi dengan bus Transjakarta lebih praktis.
Sudimara – Jurangmangu – Pondok Ranji Rp3.000 Rp15.000 – 22.000 Rp330.000 – 484.000 Pilih Angkot Rp5.000 atau ojek online untuk hemat last mile.
Kebayoran – Palmerah Rp3.000 Rp12.000 – 20.000 Rp264.000 – 440.000 Dekat pusat kota → lebih murah. Gunakan Mikrotrans Jaklingko / Transjakarta koridor terdekat sebagai pengganti ojek.

📝 Catatan Penting

  • Ongkos di atas perkiraan rata-rata: tergantung jarak rumah ke stasiun & kantor dari stasiun tujuan.
  • Parkir motor: Rp8.000 – 12.000/hari. Kalau jarak rumah >2 km, kadang lebih murah ketimbang ojek feeder.
  • Last mile Jakarta: Mikrotrans/Transjakarta integrasi Rp5.000 bisa sangat menekan biaya dibanding ojek online.
  • Strategi hemat: utamakan drop-off zone di stasiun (antar-jemput singkat) daripada parkir harian.

Add a Comment