Ojek Pangkalan Menanti Harapan: Antara Perubahan Zaman dan Solusi Transportasi
|Di pintu keluar stasiun, deretan abang ojek pangkalan masih setia menunggu. Mereka duduk di bangku kayu, bercanda seadanya, tapi dalam hati menyimpan keresahan. Dulu, ojek pangkalan adalah andalan warga: mengantar anak sekolah, membawa galon, mengantar belanjaan, hingga jadi tumpangan darurat.
Namun, sejak hadirnya ojek online, keadaan berubah drastis. Penumpang lebih memilih menekan aplikasi, memesan motor dengan harga jelas dan pembayaran praktis. Abang ojek pangkalan pun tersisih, menunggu lebih lama untuk penumpang yang makin jarang datang.

Cerita Bang Jaya
Saya berbincang dengan Bang Jaya, salah satu abang ojek pangkalan di stasiun. Wajahnya legam terbakar matahari, motornya sudah berusia puluhan tahun, tapi semangatnya tak pernah padam.
“Sehari dapat tiga penumpang saja sudah syukur, Mas,” ujarnya. “Mau cari kerja lain susah, umur sudah tua. Anak masih sekolah, keluarga di kampung juga butuh kiriman.”
Kisah ini membuat kita sadar: bagi abang ojek, ini bukan sekadar pekerjaan, tapi hidup. Mereka berjuang menjaga nafkah keluarga, bertahan di tengah persaingan yang tak seimbang.
Ojek Online vs Ojek Pangkalan: Haruskah Berseteru?
Sering kali kita melihat keduanya seolah musuh. Padahal, keduanya bisa bersinergi. Ojek pangkalan punya modal sosial: kenal wilayah, tahu jalan tikus, dekat dengan warga. Sementara ojek online punya sistem: teknologi, transparansi harga, dan kemudahan akses.
Jika ada wadah yang menjembatani, mereka tak harus saling menjatuhkan. Justru bisa saling mengisi, menjadi pilihan transportasi yang lebih lengkap bagi masyarakat.
Pendapat Darustation
Darustation menilai, masalah ini tidak hanya soal ojek pangkalan versus ojek online. Intinya ada di kebijakan transportasi perkotaan. Selama kendaraan pribadi masih mudah parkir di stasiun, ojek akan tetap terpinggirkan.
“Parkiran stasiun harus lebih mahal, bahkan dibatasi. Dengan begitu, orang akan terdorong memilih ojek, angkutan feeder, atau transportasi umum lainnya. Regulasi pemerintah harus berani menekan penggunaan kendaraan pribadi, sekaligus memperluas lapangan kerja bagi mereka yang bergantung pada roda dua di pangkalan,” ungkap Darustation.
Transportasi umum yang memadai, integrasi sistem ojek pangkalan dan online, serta regulasi parkir yang tegas—itulah kombinasi solusi yang bisa menghadirkan keadilan.

Menutup Cerita
Sore itu, Bang Jaya masih menunggu di bangkunya, menatap stasiun yang makin ramai tapi sepi dari panggilan untuknya. “Selama motor ini masih bisa jalan, saya nggak akan berhenti,” katanya dengan senyum tipis.
Dan di balik motor tuanya, ada sebuah kisah perjuangan yang sering luput dari perhatian: perjuangan menjaga harapan keluarga di tengah perubahan zaman.