Merancang Keajaiban di Tahun yang Baru

Catatan Kajian Ustadz Nasrullah

Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering muncul di awal tahun:
“Tahun ini, apakah hidup saya akan berubah?”

Bukan soal resolusi panjang atau target muluk. Tapi soal satu hal yang lebih dalam: apakah Allah akan menghadirkan keajaiban dalam hidup kita?

Pertanyaan itulah yang terasa sangat hidup ketika saya mengikuti kajian Ustadz Nasrullah dengan tema Merancang Keajaiban di Tahun yang Baru.


Antara Ikhtiar dan Keajaiban

Ustadz membuka kajian dengan sebuah hadis yang sangat terkenal. Tentang burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, lalu pulang di sore hari dengan perut kenyang.

Hadis ini pernah menjadi bahan diskusi dua ulama besar: Imam Syafi’i dan Imam Malik.

Imam Syafi’i melihat satu pesan kuat:
burung itu keluar, terbang, mencari makan. Ada ikhtiar di sana.

Sementara Imam Malik melihat sisi yang berbeda:
burung itu yakin. Pergi lapar, pulang kenyang. Rezekinya sudah diatur Allah.

Dua sudut pandang. Satu tujuan.
Dan saya mulai paham, bahwa hidup ini memang tidak hitam-putih.


Bekerja atau Diam, Sama-Sama Bisa Jadi Jalan Rezeki

Ustadz lalu menceritakan kisah menarik. Suatu hari, Imam Syafi’i keluar rumah dan membantu di kebun anggur. Ia bekerja, lalu mendapat upah. Rezeki datang lewat keringat.

Di sisi lain, Imam Malik pernah mendapatkan anggur tanpa keluar bekerja. Datang begitu saja.

Apakah salah satu lebih benar?
Tidak.

Karena Allah tidak terikat pada satu cara.

Kadang Allah memberi rezeki lewat kerja keras.
Kadang Allah memberi rezeki lewat jalan yang sama sekali tidak kita sangka.


Belajar Keajaiban dari Maryam

Bagian kajian yang paling menampar hati saya adalah kisah Maryam dalam Al-Qur’an.

Allah menceritakan bagaimana Maryam mendapatkan makanan secara ajaib. Ketika Nabi Zakariya bertanya, Maryam menjawab dengan penuh keyakinan:

“Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa hisab.”

Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada pembelaan.
Hanya keyakinan yang utuh.

Dan justru dari keyakinan itulah, Nabi Zakariya belajar. Hingga akhirnya beliau berdoa, dan Allah menghadirkan keajaiban lain: lahirnya Nabi Yahya, di usia yang secara logika sudah mustahil.

Saya tersadar:
kadang yang menghalangi keajaiban bukan keadaan, tapi keraguan kita sendiri.


Keajaiban Itu Nyata, Bukan Dongeng

Al-Qur’an penuh dengan kisah keajaiban:

  • Singgasana Ratu Balqis berpindah dalam sekejap
  • Ilmu yang Allah titipkan pada hamba-Nya
  • Doa yang mengubah takdir

Semua itu bukan untuk dibaca sebagai cerita, tapi untuk dipercaya dan dipraktikkan.

Karena ayat-ayat Allah bukan hiasan, tapi petunjuk hidup.


Istighfar: Kunci yang Sering Diremehkan

Ustadz lalu mengingatkan ayat dalam Surah Nuh. Tentang istighfar yang membuka:

  • Rezeki
  • Hujan keberkahan
  • Harta
  • Keturunan
  • Kehidupan yang lapang

Lucunya, kita sering ingin hasil besar, tapi malas pada amalan yang terlihat sederhana.

Padahal mungkin, yang menghalangi rezeki kita bukan kurangnya usaha, tapi dosa yang belum dibereskan.


Merancang Keajaiban Itu Mungkin

Dari kajian ini saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana:

Keajaiban tidak selalu datang dengan cara spektakuler.
Kadang ia hadir lewat:

  • Taubat yang sungguh-sungguh
  • Istighfar yang konsisten
  • Keyakinan yang jujur
  • Ikhtiar yang apa adanya

Dan di atas semua itu:
percaya penuh kepada Allah.

Tahun baru tidak butuh janji muluk.
Cukup satu tekad:
“Ya Allah, aku ingin lebih percaya kepada-Mu.”

Siapa tahu, dari situlah keajaiban dimulai.(ds)

Add a Comment