MENUMBUHKAN KESABARAN, MENGUATKAN IMAN, DAN MEMBERDAYAKAN UMAT
Kajian I’tikaf & Qiyamul Lail
Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat
Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI)
Masjid Istiqlal
Pemateri:
H. Abu Hurairah Abdul Salam, Lc., MA
Jumat, 19 Desember 2025
Pembukaan & Doa
Subḥānallāhil ‘Alīmil Ḥakīm, Arḥamal Ar-Rāḥimīn.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn.
Amma ba‘du.

Mukadimah
Yang pertama, marilah kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Alhamdulillāh, di antara sekian miliar manusia di muka bumi, Allah SWT masih melimpahkan kepada kita umur, kesehatan, serta hidayah-Nya. Dengan izin-Nya pula, malam ini kita ditakdirkan hadir di Masjid Istiqlal dengan niat i’tikaf dan qiyamul lail.
Kehadiran kita di masjid bukanlah sekadar rutinitas ibadah, melainkan pernyataan komitmen keimanan—ikhtiar untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jalan iman bukan jalan yang ringan, tetapi jalan perjuangan yang menuntut kesabaran, keistiqamahan, dan pengorbanan.
Hakikat Sabar dalam Kehidupan Orang Beriman
Para ulama menjelaskan bahwa sabar dalam kehidupan seorang mukmin mencakup tiga perkara utama:
- Sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT
Melangkahkan kaki ke masjid, meluangkan waktu untuk i’tikaf, serta bangun di sepertiga malam untuk qiyamul lail—semua membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. - Sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT
Menahan diri dari perbuatan yang dilarang, meskipun peluang dan godaan terbuka lebar. - Sabar dalam menerima takdir Allah SWT
Baik takdir yang menyenangkan maupun yang terasa berat: kehilangan, sakit, kegagalan, dan berbagai ujian kehidupan.
Dari tiga bentuk sabar tersebut, para ulama membaginya menjadi dua:
Sabar Ikhtiari, yaitu sabar yang lahir dari pilihan sadar, seperti memilih hadir di masjid daripada tinggal di rumah.
Sabar Iḍṭirāri, yaitu sabar atas ketetapan Allah yang tidak dapat ditolak, seperti wafatnya orang tua, kehilangan pekerjaan, atau musibah lainnya.
Allah SWT berfirman:
“Innallāha ma‘aṣ-ṣābirīn”
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Teladan Kesabaran Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ memberikan teladan agung tentang makna sabar melalui kisah putrinya, Zainab binti Muhammad. Ketika cucu Rasulullah ﷺ berada dalam kondisi sakit keras, Zainab mengutus seseorang agar Rasulullah ﷺ berkenan menjenguk.
Saat itu Rasulullah ﷺ tengah disibukkan oleh urusan umat. Beliau menyampaikan pesan yang sangat dalam maknanya:
“Innā lillāhi mā akhadza wa lahū mā a‘ṭā, wa kullu shay’in ‘indahū bi ajalin musamman. Fal-taṣbir wa l-taḥtasib.”
Maknanya, segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Ketika titipan itu diambil kembali, yang Allah tuntut dari seorang mukmin adalah kesabaran dan pengharapan pahala.
Ketika Rasulullah ﷺ akhirnya memangku cucunya yang sedang sakaratul maut, air mata beliau menetes. Menangis adalah bagian dari fitrah dan rahmat Allah dalam hati manusia. Namun Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kesedihan tidak boleh berubah menjadi penolakan terhadap takdir Allah. Inilah keseimbangan antara rasa kemanusiaan dan keteguhan iman.
I’tikaf dan Qiyamul Lail sebagai Pondasi Pemberdayaan Umat
I’tikaf dan qiyamul lail tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga melahirkan kesalehan sosial. Dari ibadah malam akan tumbuh:
Jiwa yang tenang
Hati yang lembut
Kesabaran yang kokoh
Kepedulian terhadap sesama
Inilah fondasi utama pemberdayaan umat. Umat yang kuat bukan hanya umat yang cerdas dan sejahtera secara materi, tetapi umat yang kuat iman, kokoh akhlak, dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.
Masjid—terutama Masjid Istiqlal—harus menjadi pusat transformasi spiritual dan sosial, tempat lahirnya pribadi-pribadi yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.

Penutup
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah i’tikaf dan qiyamul lail kita, menguatkan kesabaran dalam setiap ujian kehidupan, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah dan bermanfaat bagi umat.
Allāhumma taqabbal minnā, innaka Antas-Samī‘ul ‘Alīm.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.