Ketika Tombol Dislike Dikubur: Kekuasaan, Penjilat, dan Ilusi Followers

Di era digital, suara publik tak lagi hanya terdengar di mimbar atau ruang rapat tertutup. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana namun bermakna: komentar, like, dan dislike. Tombol-tombol kecil ini sering kali menjadi cermin paling jujur dari apa yang sebenarnya dirasakan publik.

Namun belakangan, muncul fenomena yang patut dicermati:
tombol dislike dihilangkan, disamarkan, atau sengaja dikubur, terutama ketika kritik yang muncul terasa terlalu jujur, terlalu tajam, dan terlalu membangun bagi mereka yang sedang berkuasa.

Dislike Bukan Musuh, Tapi Alarm

Banyak penguasa—baik di institusi publik, organisasi, maupun komunitas—masih salah kaprah memaknai dislike. Ia dianggap sebagai ancaman, pembangkangan, bahkan bentuk permusuhan.

Padahal, dislike sering kali justru:

  • Tanda kepedulian
  • Alarm dini atas kebijakan yang keliru
  • Bentuk kritik paling jujur dari mereka yang masih berharap perubahan

Yang sesungguhnya berbahaya bukan dislike, melainkan hilangnya ruang untuk berbeda pendapat. Karena saat kritik dibungkam, yang tumbuh bukan ketenangan, melainkan kepalsuan.

Apakah Kekuasaan yang Membungkam Dislike Akan Langgeng?

Secara formal, mungkin iya—untuk sementara. Jabatan masih dipegang, struktur masih berdiri, aturan masih berpihak. Namun secara substansi, kekuasaan yang alergi kritik sedang menggali lubang kejatuhannya sendiri.

Penguasa yang menutup ruang dislike biasanya:

  • Takut bercermin pada kejujuran
  • Sibuk menjaga citra, bukan memperbaiki substansi
  • Lebih ingin terlihat benar daripada benar-benar bertanggung jawab

Kekuasaan seperti ini tampak tenang di permukaan, tapi rapuh di dalam. Ia berdiri bukan di atas kepercayaan, melainkan di atas ketakutan.

Dampak bagi Mereka yang Membungkam Kritik

Membungkam dislike bukan tanpa harga. Dampaknya mungkin tidak langsung, tetapi terasa dalam jangka panjang:

  1. Kepercayaan publik terkikis
  2. Lingkaran semu persetujuan terbentuk
  3. Keputusan makin jauh dari realitas
  4. Perlawanan berubah menjadi sunyi dan sinisme

Kritik yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah bentuk dan menunggu waktu.

Kaum Penjilat dan Ilusi Followers

Di sekitar kekuasaan yang anti-kritik, hampir selalu hadir kaum penjilat.
Mereka hidup dari pujian dan bertahan dari sanjungan. Lebih jauh, mereka juga mengelola followers—massa pendukung yang bisa diarahkan untuk membanjiri like, menenggelamkan dislike, dan menciptakan kesan dukungan massif.

Followers ini:

  • Digunakan sebagai legitimasi semu
  • Dikerahkan untuk menyerang kritik
  • Dijadikan tameng untuk melanggengkan kekuasaan

Namun kekuatan yang hanya bertumpu pada followers tanpa kesadaran dan kejujuran tidak pernah benar-benar kokoh. Ia ramai, tapi dangkal. Besar, tapi rapuh.

Penjilat: Karena Sistem atau Karena Kebiasaan?

Tidak semua penjilat lahir dari watak pribadi.
Sebagian dibentuk oleh sistem.

Dalam sistem yang:

  • Menghukum kritik
  • Menghadiahi pujian
  • Menilai loyalitas dari seberapa sering setuju

menjilat berubah dari pilihan moral menjadi strategi bertahan hidup.

Namun yang berbahaya, penjilatan yang awalnya terpaksa sering berubah menjadi kebiasaan.
Dari diam → terbiasa → menikmati.

Pada fase ini, penjilat tidak lagi menunggu arahan. Ia akan:

  • Mendahului pujian
  • Menyerang kritik tanpa diminta
  • Menggerakkan followers sebelum pemimpin bicara

Penjilatan pun menjelma identitas.

Antiklimaks: Saat Puncak Menjadi Awal Kejatuhan

Baik penjilat karena sistem maupun karena kebiasaan, keduanya berbagi nasib yang sama:
antiklimaks.

Saat kekuasaan berada di puncak dan merasa paling aman, justru di situlah hukum alam bekerja.
Followers mulai menghilang.
Sanjungan perlahan sunyi.
Pembelaan tak lagi terdengar.

Yang dulu dielu-elukan, terjatuh bebas dari ketinggian yang dibanggakan sendiri.

Karena followers bisa dikumpulkan,
tetapi kepercayaan tidak bisa dipaksa untuk setia.

Dampak bagi Mereka yang Melakukan Dislike

Di sisi lain, mereka yang berani menekan dislike juga menanggung risiko:

  • Dicap pembangkang atau tidak loyal
  • Dibungkam secara halus maupun kasar
  • Mengalami kelelahan moral dan memilih menjauh

Namun dislike yang jujur adalah jejak keberanian.
Ia mungkin kecil hari ini, tetapi menjadi saksi bahwa pernah ada yang memilih tidak ikut bertepuk tangan.

Penutup: Kekuasaan Tanpa Akar Akan Runtuh

Menghilangkan dislike dan memamerkan banyaknya followers mungkin membuat kekuasaan tampak kokoh.
Namun semua itu hanyalah ilusi ketahanan.

Kekuasaan yang langgeng bukan yang paling ramai dipuji,
melainkan yang paling kuat berakar pada kejujuran dan kepercayaan.

Karena pada akhirnya:

  • Followers bisa pergi
  • Penjilat bisa hilang
  • Sistem bisa runtuh

Tetapi kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri. (ds)

Add a Comment