Ketika Kebiasaan Buruk Menghancurkan Keluarga: Korupsi, Kepalsuan, dan Putusnya Silaturahmi

Ada ironi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari: keluarga yang tampak rapi di luar, tetapi rapuh di dalam. Hubungan darah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi arena saling mencurigai, menyimpan luka, dan memendam amarah.

Akar masalahnya sering kali bukan kemiskinan, melainkan kebiasaan buruk yang dipelihara, dibenarkan, bahkan dianggap wajar.

Korupsi, memalak, menutup mata terhadap keburukan, serta membiarkan hal negatif terus berjalan—semua ini sering dilakukan di luar rumah dengan kesadaran penuh, dibungkus alasan “kebutuhan hidup” dan gengsi sosial.

Ironisnya, pelakunya hampir selalu merasa hidupnya kurang.
Padahal jika dilihat, segalanya ada.

Mental Selalu Kurang dan Gengsi yang Menyesatkan

Kebiasaan buruk ini lahir dari satu penyakit hati: tidak pernah merasa cukup.
Bukan karena tidak punya, tetapi karena haus pengakuan.

Di luar rumah:

  • Berani mengambil yang bukan haknya
  • Menghalalkan cara demi status
  • Membiarkan keburukan selama menguntungkan

Namun hidup tetap terasa miskin—miskin syukur, miskin ketenangan, dan miskin keberkahan.

Allah mengingatkan dengan sangat jelas:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum negara, tetapi bentuk kufur nikmat.

Dosa Sosial yang Masuk ke Ruang Keluarga

Kebiasaan buruk tidak pernah berhenti di luar rumah.
Ia akan masuk ke dalam keluarga, dan di sanalah kerusakan paling nyata terjadi.

Akibatnya:

  • Warisan menjadi ladang konflik
  • Saudara saling mencurigai
  • Hak diambil dengan cara curang
  • Keserakahan dibungkus dalih “demi orang tua”

Ada yang terlihat paling peduli pada orang tua, paling vokal soal bakti, tetapi di balik itu ada sasaran telak: menguasai seluruh warisan.

Dan biasanya, kezaliman ini tidak dilakukan sendirian.
Akan ada saudara yang sepaham, saling kompromi, saling membela, dan saling menutup kesalahan.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak halal harta seorang Muslim diambil kecuali dengan kerelaan hatinya.”
(HR. Ahmad)

Kezaliman Antar Saudara dan Budaya Menutup Kesalahan

Yang paling menyakitkan adalah ketika kezaliman dilakukan oleh sesama saudara sendiri.
Bukan oleh orang luar, tetapi oleh darah daging.

Lebih menyedihkan lagi, kezaliman ini sering tidak mau disadari.
Saat pihak yang terzolimi meminta klarifikasi, yang muncul bukan kejujuran, melainkan pembelaan sepihak.

Kalimat yang sering dilontarkan pun terdengar seperti ini:

“Sudahlah, jangan ribut… nanti ibu tahu.”

Kalimat yang seolah menenangkan ini sejatinya adalah alat pembungkam kebenaran.
Bukan untuk melindungi orang tua, tetapi untuk melindungi kesalahan sendiri.

Masalah ditutupi, fakta disembunyikan, dan kesalahan tidak pernah diakui.
Padahal, diam dalam kezaliman bukanlah perdamaian.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Maaf yang Tidak Pernah Datang

Sering kali, pihak yang terzolimi tidak menuntut harta berlebihan.
Tidak mencari keributan.
Yang diharapkan hanya klarifikasi dan satu kata sederhana: maaf.

Namun justru itulah yang paling sulit diberikan.

Dalam Islam, dosa kepada sesama manusia tidak cukup ditebus dengan ibadah.
Para ulama menegaskan bahwa ḥaqq al-‘ibād hanya selesai jika:

  1. Kesalahan diakui
  2. Hak dikembalikan
  3. Maaf diminta dengan tulus

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kezaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Umrah dan Simbol Agama sebagai Alat Pencitraan

Yang lebih menyedihkan, sebagian orang menjadikan umrah dan simbol agama sebagai alat menaikkan harga diri.
Seolah-olah ibadah mahal dapat menutupi kezaliman sosial.

Allah sudah mengingatkan:

“Celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Imam Al-Ghazali رحمه الله menegaskan bahwa:

Ibadah tanpa akhlak hanya melahirkan kesombongan spiritual.

Agama bukan alat pencitraan, dan ibadah tidak pernah dimaksudkan untuk menipu manusia.

Damai Palsu dan Luka yang Dipendam

Banyak keluarga terlihat “tenang” di permukaan, tetapi sejatinya menyimpan luka panjang.
Damai yang dibangun di atas kebohongan tidak akan menyembuhkan apa pun.

Sebaliknya, klarifikasi yang jujur—meski menyakitkan di awal—adalah jalan penyelamatan.

Imam Ibn Qayyim رحمه الله berkata:

“Keadilan adalah fondasi segala hubungan. Jika fondasi ini runtuh, maka seindah apa pun bangunannya akan roboh.”

Penutup: Jujur, Adil, dan Takut kepada Allah

Keluarga tidak hancur karena kekurangan, tetapi karena ketidakjujuran.
Bukan karena tidak cukup, tetapi karena tidak pernah puas.

Islam tidak menilai seseorang dari:

  • Gelar hajinya
  • Banyaknya simbol ibadah
  • Penampilan religius

Tetapi dari amanah, keadilan, dan akhlak.

Menjaga nama baik keluarga tidak boleh dengan mengorbankan keadilan.
Menjaga perasaan orang tua tidak boleh dengan melanggengkan kezaliman.

Karena pada akhirnya:

  • Allah Maha Mengetahui
  • Kebenaran akan muncul
  • Dan luka yang tidak disembuhkan dengan kejujuran akan terus berdarah

Semoga kita dijauhkan dari kebiasaan buruk yang merusak keluarga, dan diberi keberanian untuk mengakui kesalahan, meminta maaf, dan hidup jujur—meski sederhana, tetapi penuh keberkahan. (ds)

Add a Comment