Ketika Harga Diri Dilelang: Potret Tokoh yang Terjebak Janji Kampanye
|📅 Oleh: Redaksi Darustation | 26 Juli 2025
Ia duduk di panggung, tapi tidak lagi memegang kendali.
Raut wajahnya murung, pandangannya kosong. Di belakangnya, bendera partai dan spanduk kampanye berkibar—semarak, namun terasa asing. Sosok ini dulunya dikenal sebagai penegak suara warga, tokoh masyarakat yang dijadikan panutan. Tapi hari ini, ia hanya menjadi simbol diam dari hutang budi yang belum lunas.
Janji yang Mengikat Bukan Karena Cinta, Tapi Karena Utang
Tidak ada yang salah dengan membalas kebaikan. Tapi ketika kebaikan dibayar dengan kesetiaan buta, di sanalah persoalan bermula. Banyak tokoh masyarakat akhirnya terjebak pada janji kampanye, bukan karena mereka yakin dengan visi-misi si calon, tapi karena merasa “terlanjur dibantu.”
Sebungkus bantuan kesehatan, selembar surat rekomendasi, atau bahkan hanya undangan makan malam—semua bisa jadi alasan mengapa suara mereka kini tak lagi lantang. Seperti lelaki di ilustrasi, yang walau duduk di depan, tampak jauh dari semangat.
“Saya nggak bisa menolak, saya punya hutang moral ke
dia,”
begitu pengakuannya saat ditanya kenapa mendukung calon yang dulu pernah ia
kritik habis-habisan.
Harga Diri yang Diam-Diam Terkikis
Dulu ia yang bersuara keras soal anggaran desa, soal keadilan sosial. Tapi kini ia berbisik pelan, bahkan cenderung diam ketika warga bertanya kenapa dana kompensasi kampanye tak transparan.
Kecewa? Pasti. Tapi lebih dari itu, masyarakat kini mulai skeptis. Karena kalau tokoh sekuat dia bisa berubah demi kepentingan sesaat, siapa lagi yang bisa dipercaya?
Mereka tak melihatnya sebagai pengkhianat. Tapi sebagai
korban.
Korban dari sistem politik yang melanggengkan praktik hutang budi tanpa
akuntabilitas.
Kampanye: Ajang Panggung atau Penjara Nurani?
Kampanye bukan lagi arena ide. Tapi menjadi panggung untuk mengikat loyalitas, bahkan jika perlu, dengan janji yang dibungkus bantuan. Dan tokoh-tokoh lokal adalah target empuk.
Mereka ditarik ke barisan depan, dipotret, dijadikan ikon dukungan. Tapi yang tak terlihat dalam kamera adalah rasa malu yang tak bisa dihapus, karena mereka tahu: mereka tidak sepenuhnya merdeka.
Darimana Kita Harus Mulai?
🔹 Mulai dari kesadaran
bahwa bantuan tidak boleh melumpuhkan suara kritis.
🔹
Mulai dari keberanian untuk berkata “terima kasih” tanpa harus “ikut
mendukung.”
🔹
Mulai dari membangun budaya baru—di mana tokoh dihargai bukan karena bisa
dibeli, tapi karena bisa dipercaya.

Penutup
Ilustrasi ini adalah potret banyak orang yang kita kenal. Mungkin paman kita, tetangga kita, atau bahkan guru ngaji kita. Mereka bukan tokoh antagonis. Mereka hanya manusia biasa, yang terlalu sering ditekan oleh utang budi, hingga lupa bahwa harga diri tak seharusnya dilelang.
Karena kampanye boleh berlalu, tapi martabat akan terus diingat.