Ketika Ada yang Janggal, Bertanyalah: Suara Hati, Budaya, dan Warisan Leluhur
|Dalam kehidupan sosial yang terus berubah cepat, tak jarang kita merasakan ada sesuatu yang terasa janggal. Suasana yang dulu hangat tiba-tiba terasa dingin. Keputusan-keputusan yang diambil tak lagi selaras dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Maka, di saat seperti itu, kita tidak boleh diam. Kita harus bertanya: ada apa sebenarnya?
Pertanyaan bukan bentuk perlawanan. Ia adalah tanda kepedulian.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan kita untuk berpikir, merenung, bahkan mempertanyakan segala sesuatu yang tidak masuk akal, agar kita tidak menjadi manusia yang hanya ikut-ikutan. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 menyebutkan:
“Dzalikal kitabu laa raiba fihi, hudal lil muttaqiin”
“Inilah Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Kitab suci ini adalah petunjuk, bukan paksaan. Ia membimbing manusia agar tidak tersesat oleh gelapnya hawa nafsu dan manipulasi kelompok yang hanya ingin menguasai.

Di Balik Yang Janggal, Bisa Jadi Ada yang Disembunyikan
Jika ada pergeseran yang tak wajar dalam tatanan masyarakat—baik dalam pengambilan keputusan, pengelolaan lahan, atau pelaksanaan kegiatan sosial—jangan buru-buru menuduh. Namun, juga jangan pasrah tanpa mencari tahu.
Apalagi jika keputusan tersebut diambil tanpa melibatkan para tetua adat, tokoh agama, atau para pewaris asli dari masyarakat lokal. Ini bisa menjadi sinyal adanya konspirasi atau agenda tersembunyi dari segelintir kelompok yang merasa paling berkuasa.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Maka bertanya—adalah bentuk perlawanan dengan lisan. Bentuk awal dari ikhtiar menjaga kebenaran.
Leluhur Bukan Sekadar Masa Lalu, Tapi Penjaga Masa Depan
Dalam masyarakat adat, segala hal tak bisa diputuskan secara sepihak. Ada musyawarah, ada kearifan lokal, dan ada yang disebut kesepakatan bersama. Tidak hanya melibatkan pemerintah formal, tapi juga para sesepuh, pemangku adat, dan para ulama. Karena mereka mewakili nurani kolektif masyarakat.
Di banyak tempat—termasuk di desa-desa yang masih menjaga nilai budaya—tokoh adat seringkali tahu lebih dahulu saat ada sesuatu yang janggal. Getaran tanah, mimpi-mimpi yang aneh, binatang yang bertingkah di luar kebiasaan, bahkan angin yang berputar tak tentu arah.
Semua itu bukan mistik, melainkan simbol-simbol alam. Peringatan yang kadang kita abaikan karena terlalu modern.
Seperti kata pepatah Sunda:
“Ulah mopohokeun ka nu jadi cikal bakal.”
(Jangan lupakan mereka yang menjadi awal mula kita.)
Jangan Asingkan Anak Negeri dari Tanahnya Sendiri
Ketika keputusan besar diambil tanpa sepengetahuan orang-orang yang memiliki akar dalam tanah itu, bisa jadi terjadi pengasingan secara halus. Turunan asli didorong ke pinggir, lalu digantikan oleh kelompok-kelompok yang datang dengan segala strategi dan retorika.
Itu bukan sekadar ketidakadilan, tapi bentuk pemutusan akar sejarah.
Sebuah pelanggaran terhadap amanah nenek moyang, dan bisa menjadi sebab murka Tuhan—karena menzalimi mereka yang memiliki hak.
Ayo, Bangkitkan Kesadaran!
Jika kamu merasa ada yang berubah, jika kamu melihat ada yang tak wajar, bertanyalah! Bukan untuk membenci, tapi untuk mencari terang. Untuk meluruskan niat. Untuk menjaga amanah bumi yang diwariskan pada kita.
Ajak bicara para tokoh adat, diskusikan dengan ulama, sampaikan pada pemuda. Karena menjaga kebenaran bukan tugas satu orang, tapi tanggung jawab bersama.
Dan jangan lupa, seperti kata Imam Syafi’i:
“Kebenaran itu tidak diketahui karena siapa yang mengatakannya, tapi diketahui karena ia sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”

Penutup: Suara Hati Adalah Kompas
Jangan biarkan hatimu mati karena terlalu lama diam. Jika engkau merasa ada yang janggal, jangan takut untuk bertanya. Karena dari pertanyaan, lahir kesadaran. Dan dari kesadaran, lahir perbaikan.
Ingat, diam bisa jadi bentuk pengkhianatan. Tapi bertanya—adalah awal perjuangan. (ds)