Jika BUMDes Mengelola Bank Sampah Skala Menengah dengan Modal Rp100 Juta
Usaha Lingkungan yang Mulai Masuk Akal Secara Ekonomi
Pertanyaan yang sering muncul di forum desa biasanya
sederhana:
“Kalau dananya Rp100 juta, Bank Sampah bisa jadi usaha beneran nggak?”
Jawabannya: bisa, asal sejak awal diposisikan sebagai unit usaha, bukan sekadar kegiatan sosial yang hidup dari semangat relawan.
Dengan modal Rp100 juta, Bank Sampah BUMDes sudah bisa naik kelas—bukan lagi sekadar menimbang dan menumpuk, tapi mulai mengolah, mengefisienkan, dan mengamankan arus kas.

Seperti Apa Bank Sampah Skala Menengah dengan Modal Rp100 Juta?
Pada level ini, Bank Sampah sudah punya karakter:
- Melayani 300–600 KK
- Ada jadwal jemput & setor rutin
- Sampah dipilah dan dipress
- Sebagian dicacah untuk menaikkan nilai jual
- Punya gudang & kendaraan sendiri
- Dikelola oleh SDM tetap (digaji)
Ini bukan lagi proyek coba-coba.
Apa Saja yang Dibutuhkan?
1. Peralatan & Infrastruktur Utama
Dengan Rp100 juta, BUMDes sudah bisa membeli:
- Timbangan digital kapasitas besar
- Gerobak motor / motor roda tiga
- Mesin press plastik
- Mesin pencacah plastik
- Bak sortir dan karung jumbo
- Tong komposter (opsional)
- Gudang atau bangunan semi permanen
- Alat pelindung diri (APD)
Kuncinya bukan banyaknya alat, tapi alur kerja yang
efisien:
pilah → press/cacah → simpan → jual.
2. Sumber Daya Manusia
Struktur minimal:
- 1 kepala unit Bank Sampah
- 2–3 petugas lapangan
- 1 admin pencatatan & tabungan sampah
Dengan modal ini, SDM sudah harus digaji, bukan sukarelawan.
3. Sistem & Tata Kelola
Yang sering diremehkan justru paling menentukan:
- SOP pilah dan kebersihan
- Jadwal angkut & setor
- Buku tabungan sampah
- Harga beli internal & harga jual ke pengepul
- Laporan keuangan bulanan
Di titik ini, Bank Sampah mulai terasa seperti usaha sungguhan.
Alokasi Modal Rp100 Juta (Gambaran Umum)
Secara kasar, anggaran bisa dibagi:
- ±70% untuk alat & infrastruktur
- ±20% untuk operasional awal (3 bulan)
- ±10% untuk sosialisasi, administrasi & cadangan
Dengan skema ini, Bank Sampah tidak langsung megap-megap di bulan pertama.
Berapa Hasil yang Bisa Didapat?
Mari kita pakai hitungan konservatif, bukan versi presentasi manis.
Simulasi Operasional Bulanan
- 500 KK aktif
- Rata-rata 2 kg sampah/KK/minggu
- Total: ± 4.000 kg/bulan
Harga jual rata-rata sampah pilah:
± Rp2.500/kg
💰 Omzet Kotor
4.000 kg × Rp2.500 = Rp10.000.000/bulan
Biaya Operasional
- Gaji petugas
- BBM & perawatan kendaraan
- Listrik, air, konsumsi ringan
- Biaya angkut ke pengepul
Total: ± Rp5.000.000/bulan
📈 Laba Bersih
± Rp5.000.000/bulan
atau sekitar Rp60 juta per tahun
Ini belum termasuk:
- Iuran layanan sampah RT
- Penjualan kompos
- Kerja sama CSR atau DLH
Kapan Bank Sampah Bisa Balik Modal?
Dengan laba bersih rata-rata Rp5 juta/bulan:
- Break Even Point (BEP): ± 16–20 bulan
- Tahun pertama fokus stabilisasi
- Tahun kedua mulai terasa manfaat ekonominya
Keuntungan sesungguhnya sering baru terlihat setelah perilaku warga berubah dan volume stabil.
Tantangan Nyata di Skala Ini
Beberapa hal yang wajib diantisipasi:
- Disiplin pilah sampah rumah tangga
- Fluktuasi harga plastik & kertas
- Keletihan SDM jika target terlalu tinggi
- Bau & kebersihan jika SOP longgar
Modal besar tidak otomatis menyelesaikan masalah jika manajemennya lemah.

Penutup: Bank Sampah Bukan Usaha Cepat Kaya
Dengan modal Rp100 juta, Bank Sampah BUMDes:
- Tidak menjanjikan untung besar dalam waktu singkat
- Tapi stabil, minim konflik, dan berumur panjang
- Memberi dampak ekonomi dan lingkungan sekaligus
Bagi BUMDes yang ingin:
✔ usaha berjalan
✔ desa lebih tertib
✔ warga terlibat
Bank Sampah adalah pilihan yang sunyi, tapi berkelanjutan.
Dan untuk desa, usaha seperti inilah yang sering kali justru paling dibutuhkan. (ds)