Jika BUMDes Beternak Kambing Skala Menengah: Peluang Nyata, Bukan Sekadar Wacana
Di banyak desa, kambing bukanlah ternak asing. Hampir setiap kampung punya cerita soal kambing: dari tabungan hidup warga, hewan kurban, hingga penopang ekonomi keluarga. Pertanyaannya, bagaimana jika BUMDes mengelola peternakan kambing secara serius dan terukur? Apakah memungkinkan? Jawabannya: sangat memungkinkan, bahkan dengan modal terbatas seperti Rp50 juta.
Artikel ini mencoba membedahnya secara realistis.

Mengapa Kambing Cocok untuk Usaha BUMDes?
Beberapa alasan mengapa kambing layak dipilih:
- Pasar
selalu ada
Kebutuhan kambing untuk aqiqah, kurban, hajatan, hingga konsumsi harian relatif stabil sepanjang tahun. - Adaptif
dan tahan penyakit
Dibanding sapi, kambing lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan desa. - Perputaran
modal relatif cepat
Dalam 6–8 bulan, kambing sudah bisa dijual, terutama untuk penggemukan. - Pakan
lokal melimpah
Rumput, daun lamtoro, turi, dan limbah pertanian bisa dimanfaatkan.
Skema Usaha: Penggemukan Kambing Skala Menengah
Untuk BUMDes pemula, model penggemukan (fattening) lebih aman dibanding pembibitan.
Skala yang Disarankan
- 20–25 ekor kambing jantan
- Bobot awal ± 20–25 kg
- Masa pemeliharaan: 6–7 bulan
Kebutuhan Awal yang Harus Disiapkan
1. Kandang
- Kandang panggung sederhana
- Kapasitas 25 ekor
- Luas ± 40–50 m²
- Bahan kayu/bambu lokal
💰 Estimasi biaya: Rp8.000.000
2. Pembelian Kambing Bakalan
- Harga kambing bakalan jantan: Rp1.800.000 – Rp2.000.000 / ekor
- Ambil rata-rata Rp1.900.000
💰 20 ekor x Rp1.900.000 = Rp38.000.000
3. Pakan & Suplemen
- Hijauan (rumput & daun): sebagian besar gratis
- Konsentrat & mineral: ± Rp150.000/ekor/bulan
💰 20 ekor x Rp150.000 x 6 bulan = Rp18.000.000
⚠️ Agar masuk anggaran, sebagian pakan harus mengandalkan pakan lokal desa (kerja sama warga).
4. Obat, Vitamin, dan Perawatan
💰 Estimasi: Rp2.000.000
5. Tenaga Perawatan (Honor)
- Sistem
bagi hasil atau insentif
💰 Estimasi: Rp2.000.000
Total Anggaran Ideal (Ringkas)
| Kebutuhan | Estimasi |
| Kandang | Rp8.000.000 |
| Kambing bakalan | Rp38.000.000 |
| Pakan & suplemen | Rp18.000.000 |
| Obat & vitamin | Rp2.000.000 |
| Tenaga | Rp2.000.000 |
| Total Ideal | Rp68.000.000 |
➡️ Lalu bagaimana jika BUMDes hanya punya Rp50 juta?
Simulasi Realistis: Anggaran BUMDes Rp50 Juta
Agar tetap jalan, perlu penyesuaian skala.
Skema Disesuaikan:
- 15 ekor kambing
- Kandang lebih sederhana
- Maksimalkan pakan lokal
Rincian Anggaran Rp50 Juta
| Komponen | Biaya |
| Kandang sederhana | Rp6.000.000 |
| 15 kambing x Rp1.900.000 | Rp28.500.000 |
| Pakan & suplemen (6 bulan) | Rp12.000.000 |
| Obat & operasional | Rp2.500.000 |
| Total | Rp49.000.000 |
Estimasi Waktu Panen & Bobot
- Bobot awal: ± 22 kg
- Kenaikan bobot: ± 100–120 gram/hari
- Setelah
6–7 bulan:
- Bobot akhir: ± 38–42 kg
Estimasi Harga Jual Kambing
- Harga
pasar kambing gemuk:
Rp3.000.000 – Rp3.500.000 / ekor - Ambil konservatif: Rp3.200.000
Total Penjualan
15 ekor x Rp3.200.000 = Rp48.000.000
Kalkulasi Hasil & Keuntungan
Modal Awal
Rp49.000.000
Hasil Penjualan
Rp48.000.000
➡️ Hasil ini terlihat impas, bahkan sedikit minus. Lalu di mana untungnya?
Kunci Agar BUMDes Untung
- Pakan
hijauan dari desa (gratis)
Jika pakan ditekan:- Biaya pakan bisa turun Rp4–5 juta
- Harga
jual momen tertentu
- Menjelang
Idul Adha:
Harga bisa naik jadi Rp3.800.000–4.200.000/ekor
- Menjelang
Idul Adha:
Simulasi Kurban
15 ekor x Rp4.000.000 = Rp60.000.000
➡️ Potensi laba bersih: Rp10–12 juta / siklus (6–7 bulan)
Peluang Lanjutan untuk BUMDes
- Kotoran kambing → pupuk organik
- Kemitraan warga (plasma)
- Paket kambing aqiqah
- Pengembangan ke pembibitan

Penutup
Usaha peternakan kambing bukan usaha instan, tapi sangat cocok untuk BUMDes yang ingin usaha riil, berbasis desa, dan berputar cepat. Dengan manajemen sederhana, pakan lokal, dan momen jual yang tepat, modal Rp50 juta bukan mustahil berkembang. BUMDes tidak perlu langsung besar.
Yang penting: jalan dulu, tertib, dan berkelanjutan. (ds)