Jika BUMDes Beternak Kambing Skala Menengah: Peluang Nyata, Bukan Sekadar Wacana

Di banyak desa, kambing bukanlah ternak asing. Hampir setiap kampung punya cerita soal kambing: dari tabungan hidup warga, hewan kurban, hingga penopang ekonomi keluarga. Pertanyaannya, bagaimana jika BUMDes mengelola peternakan kambing secara serius dan terukur? Apakah memungkinkan? Jawabannya: sangat memungkinkan, bahkan dengan modal terbatas seperti Rp50 juta.

Artikel ini mencoba membedahnya secara realistis.


Mengapa Kambing Cocok untuk Usaha BUMDes?

Beberapa alasan mengapa kambing layak dipilih:

  1. Pasar selalu ada
    Kebutuhan kambing untuk aqiqah, kurban, hajatan, hingga konsumsi harian relatif stabil sepanjang tahun.
  2. Adaptif dan tahan penyakit
    Dibanding sapi, kambing lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan desa.
  3. Perputaran modal relatif cepat
    Dalam 6–8 bulan, kambing sudah bisa dijual, terutama untuk penggemukan.
  4. Pakan lokal melimpah
    Rumput, daun lamtoro, turi, dan limbah pertanian bisa dimanfaatkan.

Skema Usaha: Penggemukan Kambing Skala Menengah

Untuk BUMDes pemula, model penggemukan (fattening) lebih aman dibanding pembibitan.

Skala yang Disarankan

  • 20–25 ekor kambing jantan
  • Bobot awal ± 20–25 kg
  • Masa pemeliharaan: 6–7 bulan

Kebutuhan Awal yang Harus Disiapkan

1. Kandang

  • Kandang panggung sederhana
  • Kapasitas 25 ekor
  • Luas ± 40–50 m²
  • Bahan kayu/bambu lokal

💰 Estimasi biaya: Rp8.000.000


2. Pembelian Kambing Bakalan

  • Harga kambing bakalan jantan: Rp1.800.000 – Rp2.000.000 / ekor
  • Ambil rata-rata Rp1.900.000

💰 20 ekor x Rp1.900.000 = Rp38.000.000


3. Pakan & Suplemen

  • Hijauan (rumput & daun): sebagian besar gratis
  • Konsentrat & mineral: ± Rp150.000/ekor/bulan

💰 20 ekor x Rp150.000 x 6 bulan = Rp18.000.000

⚠️ Agar masuk anggaran, sebagian pakan harus mengandalkan pakan lokal desa (kerja sama warga).


4. Obat, Vitamin, dan Perawatan

💰 Estimasi: Rp2.000.000


5. Tenaga Perawatan (Honor)

  • Sistem bagi hasil atau insentif
    💰 Estimasi: Rp2.000.000

Total Anggaran Ideal (Ringkas)

Kebutuhan Estimasi
Kandang Rp8.000.000
Kambing bakalan Rp38.000.000
Pakan & suplemen Rp18.000.000
Obat & vitamin Rp2.000.000
Tenaga Rp2.000.000
Total Ideal Rp68.000.000

➡️ Lalu bagaimana jika BUMDes hanya punya Rp50 juta?


Simulasi Realistis: Anggaran BUMDes Rp50 Juta

Agar tetap jalan, perlu penyesuaian skala.

Skema Disesuaikan:

  • 15 ekor kambing
  • Kandang lebih sederhana
  • Maksimalkan pakan lokal

Rincian Anggaran Rp50 Juta

Komponen Biaya
Kandang sederhana Rp6.000.000
15 kambing x Rp1.900.000 Rp28.500.000
Pakan & suplemen (6 bulan) Rp12.000.000
Obat & operasional Rp2.500.000
Total Rp49.000.000

Estimasi Waktu Panen & Bobot

  • Bobot awal: ± 22 kg
  • Kenaikan bobot: ± 100–120 gram/hari
  • Setelah 6–7 bulan:
    • Bobot akhir: ± 38–42 kg

Estimasi Harga Jual Kambing

  • Harga pasar kambing gemuk:
    Rp3.000.000 – Rp3.500.000 / ekor
  • Ambil konservatif: Rp3.200.000

Total Penjualan

15 ekor x Rp3.200.000 = Rp48.000.000


Kalkulasi Hasil & Keuntungan

Modal Awal

Rp49.000.000

Hasil Penjualan

Rp48.000.000

➡️ Hasil ini terlihat impas, bahkan sedikit minus. Lalu di mana untungnya?


Kunci Agar BUMDes Untung

  1. Pakan hijauan dari desa (gratis)
    Jika pakan ditekan:
    • Biaya pakan bisa turun Rp4–5 juta
  2. Harga jual momen tertentu
    • Menjelang Idul Adha:
      Harga bisa naik jadi Rp3.800.000–4.200.000/ekor

Simulasi Kurban

15 ekor x Rp4.000.000 = Rp60.000.000

➡️ Potensi laba bersih: Rp10–12 juta / siklus (6–7 bulan)


Peluang Lanjutan untuk BUMDes

  • Kotoran kambing → pupuk organik
  • Kemitraan warga (plasma)
  • Paket kambing aqiqah
  • Pengembangan ke pembibitan

Penutup

Usaha peternakan kambing bukan usaha instan, tapi sangat cocok untuk BUMDes yang ingin usaha riil, berbasis desa, dan berputar cepat. Dengan manajemen sederhana, pakan lokal, dan momen jual yang tepat, modal Rp50 juta bukan mustahil berkembang. BUMDes tidak perlu langsung besar.
Yang penting: jalan dulu, tertib, dan berkelanjutan. (ds)

Add a Comment