Banjir Kabupaten Tangerang Januari 2026: Air Datang Lagi, Janji Tinggal Lagi

🌧️Awal Januari 2026, hujan deras kembali menjadi pembuka tahun yang tidak ramah bagi warga Kabupaten Tangerang. Banjir lagi. Dan seperti déjà vu tahunan, air datang lebih cepat daripada solusi permanen. Dari desa ke desa, dari bantaran sungai ke kawasan permukiman, genangan air kembali menegaskan satu hal: banjir di Kabupaten Tangerang belum benar-benar selesai, hanya berganti episode.

Artikel ini mencoba merangkum kondisi banjir berdasarkan pemberitaan media online, unggahan warga di media sosial, serta refleksi dan saran kritis dari Darustation—bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mengajak berpikir lebih jujur dan berani.


🌊 Kondisi Banjir Kabupaten Tangerang: Fakta Januari 2026

Sepanjang awal hingga pertengahan Januari 2026, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan luapan sungai dan genangan luas di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang.

Beberapa kecamatan terdampak antara lain:

  • Jayanti
  • Kresek
  • Tigaraksa
  • Gunung Kaler
  • Kosambi

Di sejumlah titik, ketinggian air berkisar 30–60 cm, bahkan di beberapa kawasan perumahan di Jayanti, air sempat mencapai lebih dari 2 meter, memaksa ratusan warga mengungsi sementara.

Dampaknya tidak main-main:

  • Ribuan rumah warga terendam
  • Sekolah dasar diliburkan atau PJJ karena akses dan ruang kelas tergenang
  • Ratusan hektare sawah terendam, mengancam gagal panen
  • Warga mulai mengeluhkan air bersih, penyakit kulit, dan aktivitas ekonomi yang lumpuh

Banjir bukan hanya menggenangi rumah, tapi juga memotong ritme hidup warga.


📱 Suara Warga dari Media Sosial: Realita Tanpa Filter

Di media sosial—terutama Instagram, Facebook, dan WhatsApp Group warga—banjir terlihat apa adanya:

  • Jalan desa berubah seperti sungai
  • Motor mogok, mobil terjebak
  • Anak-anak digendong menembus air
  • Warga gotong royong tanpa kamera resmi

Unggahan warga sering kali lebih jujur daripada laporan formal. Dari sinilah terlihat bahwa banjir bukan sekadar angka dan grafik, tapi pengalaman hidup yang berulang.


🏛️ Upaya Pemerintah Kabupaten Tangerang: Ada, Tapi Terasa Berulang

Pemerintah Kabupaten Tangerang, di bawah kepemimpinan Bupati Tangerang, tentu tidak sepenuhnya diam. Dalam berbagai pernyataan resmi dan pemberitaan media, disebutkan beberapa program jangka panjang:

  • Normalisasi sungai (Cidurian, Cirarab, Cisadane hilir)
  • Pembangunan dan perbaikan drainase
  • Polder, embung, dan kolam retensi
  • Penanganan darurat oleh BPBD
  • Koordinasi lintas wilayah

Namun, di mata warga, muncul pertanyaan besar:

Kenapa banjir tetap datang dengan pola yang sama, hampir setiap tahun?

Di sinilah muncul kesan bahwa banjir hanya menjadi estafet masalah dari satu bupati ke bupati berikutnya.


🔄 Banjir sebagai Estafet Kepemimpinan: Ganti Orang, Masalah Tetap

Jika ditarik ke belakang, narasi banjir di Kabupaten Tangerang nyaris tidak berubah:

  • Saat hujan: rapat, posko, bantuan
  • Saat air surut: pernyataan, rencana, wacana
  • Saat kemarau: sunyi

Banyak warga menyebut kondisi ini dengan istilah sederhana tapi pedas:
NATO – No Action, Talk Only.

Bukan berarti tidak ada pekerjaan sama sekali, tetapi:

  • Penanganan parsial dan tidak menyeluruh
  • Normalisasi sungai terputus-putus
  • Alih fungsi lahan terus berjalan
  • Izin perumahan dan industri sering lebih cepat daripada pembangunan sistem resapan

Akibatnya, banjir tetap menjadi warisan jabatan, bukan masalah yang diselesaikan sampai tuntas.


🧠 Tanggapan & Saran Darustation: Banjir Bukan Takdir, Tapi Akumulasi Keputusan

Dari perspektif Darustation, banjir tidak bisa terus diposisikan sebagai bencana musiman yang “dimaklumi”. Banjir hari ini adalah hasil keputusan bertahun-tahun, bukan semata faktor alam.

Beberapa catatan penting ala Darustation untuk Kabupaten Tangerang:

1️⃣ Hentikan Sumber Masalah, Bukan Sekadar Dampaknya

Normalisasi sungai tidak akan cukup jika:

  • Sempadan sungai masih ditempati
  • Lahan resapan terus hilang
  • Perizinan tidak dikendalikan

2️⃣ Transparansi Target Jangka Panjang

Warga butuh kejelasan:

  • Sungai mana yang benar-benar selesai?
  • Wilayah mana yang aman 5 tahun ke depan?
  • Mana yang hanya rencana di atas kertas?

3️⃣ Libatkan Warga Sebelum Banjir

Edukasi, simulasi evakuasi, dan kesiapsiagaan komunitas harus dilakukan sebelum hujan, bukan saat air sudah masuk rumah.

4️⃣ Berani Ambil Keputusan Tidak Populer

Relokasi, penertiban bangunan, dan pembatasan izin memang berat secara politik, tapi tanpa itu, banjir akan terus menjadi agenda tahunan.


✍️ Penutup: Saatnya Memutus Rantai Estafet Banjir

Banjir Kabupaten Tangerang Januari 2026 seharusnya menjadi alarm keras, bukan catatan rutin. Jika setiap periode kepemimpinan hanya mewariskan masalah ke periode berikutnya, maka warga akan terus hidup dalam siklus yang sama:
membersihkan lumpur, lalu menunggu hujan berikutnya.

Warga tidak lagi menunggu janji.
Warga menunggu hasil yang terasa.

Karena pada akhirnya,
banjir bukan soal siapa yang paling sering bicara, tapi siapa yang benar-benar berani menyelesaikan. (ds)

Add a Comment