Ujian yang Tidak Disukai, Tapi Dicintai Allah
🕌 Kajian Ramadan di Masjid Jami’ Al-Barkah Lenteng Agung
📅 Sabtu, 28 Februari 2026
Ramadan selalu punya cara untuk menyentuh sisi terdalam hati kita. Pada Sabtu, 28 Februari 2026, suasana penuh khidmat menyelimuti Masjid Jami’ Al-Barkah Lenteng Agung dalam sebuah kajian yang mengangkat tema reflektif: ujian dalam bentuk penyakit yang tidak disukai manusia.
Siapa yang ingin sakit?
Siapa yang rela kehilangan kesempurnaan fisik?
Namun justru dari sanalah Allah sering kali menanamkan pelajaran besar tentang sabar, syukur, dan ketulusan hati.

📖 Kisah Tiga Orang: Kusta, Botak, dan Buta
Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kisah yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari tentang tiga orang dari Bani Israil:
- Seorang berpenyakit kusta
- Seorang botak
- Seorang buta
Allah hendak menguji mereka. Lalu diutuslah malaikat yang menyembuhkan penyakit mereka dan memberikan harta berlimpah berupa unta, sapi, dan kambing.
Namun setelah sehat dan kaya, dua di antara mereka lupa daratan. Mereka mengingkari nikmat Allah ketika diuji kembali dengan kedatangan malaikat yang menyamar sebagai orang miskin. Hanya satu yang bersyukur: si buta yang berkata,
“Aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah apa yang kau mau, aku tidak akan menghalangimu.”
Hasilnya?
Dua orang yang kufur nikmat kehilangan segalanya. Yang bersyukur, Allah
tetapkan nikmatnya.
Ramadan mengajarkan kita satu hal penting: nikmat itu ujian, bukan sekadar hadiah.
🩺 Penyakit: Musibah atau Kemuliaan?
Dalam pandangan Islam, penyakit bukan sekadar penderitaan fisik. Ia bisa menjadi:
- Penghapus dosa
- Pengangkat derajat
- Bukti cinta Allah kepada hamba-Nya
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ujian itu bukan tanda Allah membenci kita. Bisa jadi justru sebaliknya: tanda Allah ingin mengangkat derajat kita.
💡 Kenapa Penyakit Tertentu Tidak Disukai?
Kusta, kebotakan, dan kebutaan pada masa dahulu sering dipandang sebagai:
- Aib sosial
- Tanda kelemahan
- Sesuatu yang membuat orang dijauhi
Padahal Islam tidak pernah mengajarkan untuk merendahkan kondisi fisik seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian,
tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Standar kemuliaan dalam Islam bukan pada fisik, tetapi pada takwa.
🌙 Relevansi di Bulan Ramadan
Kajian pada Sabtu, 28 Februari 2026 ini menjadi pengingat kuat bagi jamaah bahwa Ramadan adalah momentum evaluasi diri:
- Saat sehat, apakah kita bersyukur?
- Saat diuji sakit, apakah kita bersabar?
- Saat kaya, apakah kita peduli?
- Saat diberi kelebihan, apakah kita rendah hati?
Jangan sampai kita seperti dua orang dalam kisah tadi: lupa diri ketika nikmat datang.
Ramadan melatih kita agar tidak sombong ketika diberi dan tidak putus asa ketika diuji.

🤲 Pelajaran yang Bisa Kita Bawa Pulang
- Jangan menghina kondisi fisik orang lain.
- Nikmat kesehatan adalah amanah.
- Kesabaran saat sakit lebih berharga daripada keluhan tanpa henti.
- Syukur menjaga nikmat tetap bertahan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan agar hati kita lembut ketika diuji dan tetap rendah hati ketika diberi.
Semoga kita termasuk golongan yang ketika diuji berkata:
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Dan ketika diberi nikmat berkata:
“Alhamdulillah.”
Karena pada akhirnya, bukan sehat atau sakit yang menentukan mulia tidaknya kita.
Tetapi bagaimana hati kita merespons semuanya. (ds)