Menjaga Nyala Iman di Malam Hari
Kajian Bulanan Qiyamul Lail & Tarhib Ramadan
Masjid Istiqlal | Jumat, 13 Februari 2026
Penceramah: Kepala Bidang Peribadatan yang membawahi kegiatan dakwah dan
ibadah, K.H. Bukhori Sail Attahiri
Malam selalu punya cara sendiri untuk menenangkan hati. Di saat sebagian besar manusia terlelap, ada hamba-hamba Allah yang memilih terjaga—meninggalkan hangatnya kasur demi satu tujuan mulia: mendekat kepada Rabb semesta alam.
Itulah suasana yang terasa dalam Kajian Bulanan Qiyamul Lail & Tarhib Ramadan di Masjid Istiqlal. Sebuah majelis yang bukan sekadar rutinitas ibadah malam, tetapi ruang pembinaan ruhani—agar iman tidak padam di tengah riuhnya dunia.

Pembukaan Kajian: Doa sebagai Kunci Hati
Kajian dibuka dengan doa yang mengalir lembut, mengajak jamaah menata niat dan menghadirkan hati:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا
وَالدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَانْشُرْ عَلَيْنَا خَزَائِنَ
فَضْلِكَ، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا
عِلْمًا.
Segala puji bagi Allah SWT. Dengan pertolongan-Nya, kajian ini dilangsungkan sebagai ikhtiar menjaga ruh ibadah malam sekaligus menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Qiyamul Lail: Ruang Sunyi untuk Kembali
Kajian bulanan Qiyamul Lail di Masjid Istiqlal menjadi ruang perjumpaan ruhani—tempat jamaah menepi dari hiruk pikuk dunia dan kembali jujur di hadapan Allah. Malam mengajarkan kita untuk tidak sekadar sibuk berbuat, tetapi hadir sepenuh hati.
Ramadan: Bulan Al-Qur’an, Rahmat, dan Ampunan
Allah SWT berfirman:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan
Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun ada peringatan yang menggugah hati:
“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadan, lalu
Ramadan berlalu sebelum dosanya diampuni.”
(HR. Ahmad)
Ramadan bukan sekadar momentum waktu, tetapi kesempatan perubahan.
Ramadan Bukan Ajang Pamer Ibadah
Dalam kajian ini ditegaskan bahwa Ramadan bukan panggung untuk memperlihatkan ibadah. Allah menilai keikhlasan, bukan keramaian aktivitas.
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap
pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa, tarawih, dan qiyamul lail menjadi bernilai ketika dijalankan dengan iman dan harapan hanya kepada Allah.
Bergembira Menyambut Ramadan
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya,
hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(QS. Yunus: 58)
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya‘ban,
dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.”
(HR. Ahmad)
Gembira menyambut Ramadan bukan euforia kosong, melainkan kesiapan menyambut limpahan pahala.
Takwa sebagai Tujuan Puasa
Allah SWT menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian
bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan
dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ibnu Majah)
Puasa dan ibadah malam harus membentuk akhlak, bukan sekadar rutinitas fisik.
Persiapan Lahir dan Batin
Ibadah yang kuat memerlukan tubuh yang dijaga. Islam mengajarkan keseimbangan:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah
daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)
Menjaga kesehatan, mengatur pola makan, dan tidak berlebihan adalah bagian dari adab menyambut Ramadan.
Ilmu, Hutang Puasa, dan Adab Khilafiyah
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib
mengganti) pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Hutang puasa hendaknya diselesaikan sebelum Ramadan jika mampu. Ibadah pun harus berlandaskan ilmu:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Tentang shalat malam:
“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perbedaan jumlah rakaat tarawih adalah khilafiyah. Yang utama adalah adab, keikhlasan, dan istiqamah.

Penutup: Malam yang Menjaga Iman
Kajian Bulanan Qiyamul Lail & Tarhib Ramadan ini mengingatkan kita bahwa iman perlu dirawat secara rutin. Malam mengajarkan kita untuk diam, bersujud, dan kembali jujur di hadapan Allah—sebelum Ramadan benar-benar tiba.
Salam Penutup
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا
مِنَ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَبَلِّغْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ
فِيْهِ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.