Stasiun Jakarta Kota: Ketika Bangunan Heritage Perlahan Kehilangan Suara Sejarahnya
Setiap kali menjejak di Stasiun Jakarta Kota, perasaan yang muncul selalu campur aduk. Di satu sisi, kita kagum pada bangunan tua yang megah dan berkelas. Di sisi lain, ada rasa ganjil ketika nilai sejarahnya perlahan tertutup oleh dominasi elemen modern yang semakin mendominasi.
Bangunan ini bukan sekadar ruang transit. Ia diresmikan pada 8 Oktober 1929 dengan nama Batavia Zuid atau Beos Station, hasil rancangan arsitek Belanda Frans Johan Louwrens Ghijsels dengan gaya Art Deco yang khas. Sejak awal berdirinya, stasiun ini menjadi simpul transportasi penting yang menghubungkan Jakarta ke wilayah lain di Pulau Jawa. (Megapolitan Antara News)
Stasiun Jakarta Kota kini berdiri di jantung Kota Tua Jakarta, berdekatan dengan Kawasan cagar budaya lain seperti Museum Fatahillah. Lokasinya membuatnya tidak hanya penting secara operasional, tetapi juga simbol heritage arsitektur dan urbanisasi kota. (Megapolitan Antara News)

Iklan dan Modernisasi di Ruang Bersejarah
Seiring waktu, fasilitas modern seperti layar informasi digital, eskalator, lift, dan aksesibilitas disabilitas mulai hadir di Stasiun Jakarta Kota untuk meningkatkan kenyamanan. (Megapolitan Antara News)
Namun, di satu sisi modernisasi ini dapat menutupi nilai sejarah jika tidak dikelola dengan bijak. Alih-alih membangun kontras yang “mengangkat cerita sejarah”, dominasi visual yang terlalu komersial—seperti panel promosi besar atau instalasi modern tanpa sensitivitas konteks—justru bisa mengalihkan fokus pengunjung dari nilai historis bangunan.
Makna heritage bukan hanya soal “bangunan tua”, tetapi tentang narasi sejarah yang hidup di dalamnya—melampaui fungsi sekadar ruang transit. Ini perlu dipertegas agar fungsi komersial tidak mengaburkan identitas historis stasiun.
Stasiun Jakarta Kota: Warisan Sejarah yang Dipadukan dengan Mobilitas Modern
Dalam artikel liputan baru dari ANTARA, disebutkan bahwa Stasiun Jakarta Kota kini melayani rata-rata 671 ribu pelanggan per bulan dan 374 perjalanan KRL setiap hari, menunjukkan perannya sebagai tulang punggung mobilitas Jabodetabek. (inisiar.com)
Bangunan bersejarah ini bukan hanya saksi perjalanan transportasi sejak masa kolonial, tapi juga berfungsi sebagai gateway ke kawasan heritage Kota Tua yang kaya cerita. (Megapolitan Antara News)
Sementara itu, berbagai upaya lain—seperti transformasi digital dalam aplikasi tiket, integrasi dengan transportasi umum lain, dan revitalisasi kawasan—terus dijalankan untuk menjaga relevansi stasiun dalam konteks urban modern tanpa melupakan nilai sejarahnya. (inisiar.com)
Mengapa Heritage Perlu “Suara” di Tengah Modernisasi?
Bangunan heritage seperti Stasiun Jakarta Kota adalah memori kolektif suatu kota, bukan sekadar latar yang estetis. Ia menyimpan proses sejarah—mulai dari masa kolonial hingga era modern transportasi urban. (Megapolitan Antara News)
Ironisnya, jika ruang bersejarah diperlakukan sama dengan ruang komersial biasa—tanpa batasan yang sensitif terhadap konteks sejarah—nilai sejarahnya berpotensi tereduksi bahkan hilang. Panel iklan atau instalasi komersial yang terlalu dominan justru menjadi suara lain yang menutupi “suara sejarah” bangunan itu sendiri.
Belajar dari Praktik Pelestarian Dunia
Di kota-kota heritage global—seperti Paris, Roma, Amsterdam, atau Praha—aturan terkait penggunaan visual di bangunan cagar budaya sangat ketat:
- Iklan tidak menempel langsung di bangunan utama.
- Visual komersial berukuran kecil, temporer, dan kontekstual.
- Renovasi sering mencakup elemen edukatif tentang sejarah, bukan sekadar promosi.
Praktik semacam ini menunjukkan bahwa modernisasi dan heritage bisa berjalan seiring, asal ada kebijakan yang tegas dan konsisten untuk menyeimbangkannya.

Refleksi: Menjaga Heritage Tanpa Mengorbankan Fungsi Modern
Persoalannya bukan melarang modernisasi, tetapi menentukan batas yang tepat antara ruang komersial dan ruang heritage.
Stasiun Jakarta Kota adalah milik publik—milik warga hari ini dan generasi mendatang. Cara kita mengelolanya sekarang akan menentukan apakah kelak ia masih memiliki “suara sejarah” atau hanya menjadi bangunan tua tanpa makna yang jelas. (ds)
Sumber Utama:
- Sejarah dan arsitektur Stasiun Jakarta Kota (ANTARA) (Megapolitan Antara News)
- Sejarah peresmian Stasiun Jakarta Kota (Merdeka) (merdeka.com)
- Intensitas perjalanan dan peran stasiun hari ini (Inisiar) (inisiar.com)