Banjir di Perumahan: Ketika Beton Mengalahkan Air

Hujan belum lama turun, tapi air sudah naik ke jalan perumahan. Anak-anak digendong, motor mogok, dan warga kembali mengulang kalimat yang sama setiap tahun: “Ini banjir lagi, kenapa sih?”

Padahal, hujannya biasa saja.
Yang luar biasa justru perubahan lingkungan kita.

Dari Sawah Menjadi Beton

Sebelum perumahan berdiri rapat, wilayah ini adalah sawah, ladang, kebun, atau perkampungan lama. Tanahnya menyerap air, paritnya hidup, dan hujan punya ruang untuk turun tanpa menimbulkan masalah.

Kini hampir semua tertutup beton.
Lahan resapan hilang, digantikan bangunan padat. Air tidak lagi meresap, tapi mengalir cepat ke selokan sempit yang tak pernah dirancang untuk menampung limpasan sebesar ini.

Banjir pun bukan kejutan, melainkan akibat.

Izin Perumahan yang Terus Diberikan

Ironisnya, semua ini terjadi secara legal.
Izin perumahan terus keluar, dari tingkat desa hingga kabupaten.

Yang sering luput bukan soal boleh atau tidak, tapi siap atau tidak wilayah tersebut menanggung dampaknya.

Kajian lingkungan kerap menjadi formalitas. Analisis daya dukung wilayah tidak benar-benar dijadikan dasar pengambilan keputusan. Yang penting proyek jalan, rumah terjual, dan investasi berjalan.

Regulasi Pemerintah: Ada, Tapi Lemah di Pengawasan

Sebenarnya, regulasi pemerintah bukan tidak ada.
Aturan tentang tata ruang, drainase, ruang terbuka hijau, hingga kewajiban pengembang menyediakan sarana pengendalian banjir sudah tertulis rapi.

Masalahnya ada di dua hal:

  1. Penegakan yang lemah
  2. Pengawasan yang nyaris hilang setelah izin keluar

Reservoir air sering hanya ada di proposal.
Sumur resapan sekadar syarat administrasi.
Ruang terbuka hijau menyusut pelan-pelan.

Ketika banjir datang, tak ada sanksi yang tegas. Yang sibuk justru warga yang terdampak, bukan pihak yang lalai menjalankan kewajibannya.

Sampah: Masalah yang Selalu Dianggap Sepele

Banjir juga berkaitan erat dengan sampah.
Tanpa sistem pengelolaan sampah mandiri di kawasan perumahan, saluran air berubah fungsi menjadi tempat pembuangan terakhir.

Plastik, limbah rumah tangga, dan sisa material bangunan menyumbat aliran. Saat hujan turun, air kehilangan jalannya.

Ini bukan semata kesalahan warga, tapi kegagalan sistem yang tidak disiapkan sejak awal oleh pengembang dan tidak diawasi oleh pemerintah.

Peran Masyarakat: Tidak Bisa Hanya Mengeluh

Di sisi lain, masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya lepas tangan.
Mengeluh di media sosial penting, tapi tidak cukup.

Warga punya peran besar:

  • Menjaga saluran air tetap bersih
  • Tidak membuang sampah sembarangan
  • Menghidupkan kembali gotong royong
  • Berani bersuara dan mengawasi pengembang serta pemerintah
  • Mengorganisir warga untuk mendorong solusi bersama

Masyarakat yang diam akan terus menjadi korban.
Masyarakat yang sadar bisa menjadi pengubah arah kebijakan.

Pejabat, Pengembang, dan Tanggung Jawab Moral

Pembangunan bukan musuh.
Perumahan juga kebutuhan.

Namun ketika pejabat hanya menjadi pemberi izin, dan pengembang hanya mengejar keuntungan, maka yang dikorbankan adalah keselamatan warga dan masa depan lingkungan.

Banjir bukan takdir.
Ia adalah hasil dari keputusan yang diambil berulang kali tanpa koreksi.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Jika regulasi ditegakkan dengan serius,
jika pengembang diwajibkan bertanggung jawab penuh,
dan jika masyarakat berani terlibat aktif,

maka banjir tidak harus menjadi cerita tahunan.

Karena rumah seharusnya menjadi tempat paling aman saat hujan turun—bukan lokasi pertama yang digenangi air.

Dan banjir di perumahan seharusnya menjadi pengingat keras:
pembangunan tanpa tata kelola hanya akan memindahkan masalah ke halaman rumah kita sendiri. (ds)

Add a Comment