Ketika Kesehatan Dijadikan Alasan Menghindari Klarifikasi

Renungan tentang Fitnah, Amanah Lisan, dan Keselamatan Akhirat

Dalam kehidupan, ada orang-orang yang sedang diuji dengan sakit. Ada pula yang sedang diuji dengan masa lalu. Kadang keduanya bertemu dalam satu titik: ketika seseorang memilih menghindari klarifikasi atas perbuatan lama, terutama yang berkaitan dengan fitnah, dengan alasan menjaga kesehatan.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia adalah renungan bersama: tentang bagaimana Islam memandang kesehatan, dosa lisan, dan tanggung jawab sosial yang tidak gugur hanya karena waktu berlalu.

Kesehatan Adalah Nikmat, Tetapi Bukan Alasan Membiarkan Dosa

Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga kesehatan. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Namun pada saat yang sama, Islam juga mengingatkan bahwa dosa—terutama dosa kepada manusia—adalah amanah yang tidak boleh diabaikan.

Menjaga kesehatan adalah kewajiban.
Tetapi membiarkan dosa sosial tetap hidup bukan jalan keselamatan.

Fitnah: Dosa Lisan yang Dampaknya Panjang

Fitnah sering dianggap ringan karena “hanya kata-kata”. Padahal Allah menegaskan:

“Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”
(QS. Al-Baqarah: 191)

Fitnah bukan hanya kesalahan pribadi. Ia bisa:

  • merusak nama baik seseorang,
  • menghancurkan keluarga,
  • menanam prasangka di masyarakat,
  • dan menjadi dosa yang terus mengalir selama dampaknya belum diluruskan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menuduh seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah akan menahannya di neraka Jahannam sampai ia menarik kembali ucapannya.”
(HR. Abu Dawud)

Hadits ini memberi pesan jelas:
menarik kembali ucapan dan meluruskan fitnah adalah bagian dari taubat.

Klarifikasi Bukan Pertengkaran, tetapi Tanggung Jawab

Sering kali klarifikasi dihindari karena dianggap:

  • memicu konflik,
  • menambah tekanan batin,
  • atau membahayakan kesehatan.

Padahal dalam Islam, klarifikasi bukan identik dengan pertengkaran. Ia adalah bagian dari adab dan tanggung jawab.

Allah berfirman:

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Musyawarah tidak harus panjang atau keras.
Kadang cukup dengan:

  • meluruskan informasi,
  • menghentikan penyebaran prasangka,
  • atau menyampaikan kebenaran secara singkat dan jujur.

Menghindar terus-menerus bukan menyelesaikan masalah, tetapi menunda hisab.

Dosa Sosial Tidak Cukup dengan Istighfar

Para ulama membedakan antara dosa kepada Allah dan dosa kepada sesama manusia (haqqul adami).

Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:

“Taubat dari dosa yang berkaitan dengan hak manusia tidak sah kecuali dengan mengembalikan hak tersebut atau meminta kehalalan.”

Syaikh Ibn Taimiyah رحمه الله juga menjelaskan bahwa:

“Kezaliman yang berkaitan dengan kehormatan tidak gugur kecuali dengan taubat dan menghilangkan dampaknya.”

Artinya, istighfar saja tidak cukup jika fitnah masih dipercaya dan beredar di masyarakat.

Menjaga Kehormatan Lebih Utama daripada Menjaga Citra

Dalam khutbah wada’, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kehormatan seorang Muslim adalah perkara besar.
Menjaganya adalah kewajiban bersama.

Maka membiarkan fitnah hidup, meski dengan alasan apa pun, bertentangan dengan semangat Islam yang menjunjung keadilan dan kasih sayang.

Penutup: Ringankan Hati, Ringankan Hisab

Sakit adalah ujian.
Tetapi dosa yang tidak diselesaikan bisa menjadi beban yang lebih berat daripada sakit itu sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia menyelesaikannya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham.”
(HR. Bukhari)

Meluruskan kesalahan bukan tanda kalah.
Ia adalah tanda takut kepada Allah.

Karena pada akhirnya:

  • kesehatan adalah nikmat sementara,
  • tetapi hisab adalah kepastian,
  • dan taubat yang jujur selalu menjadi jalan paling aman menuju akhir kehidupan.

“Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Add a Comment