Imah 8/9: Membaca Rumah sebagai Bahasa Hidup Orang Sunda
Dalam tradisi Sunda, rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan bahasa hidup. Setiap angka, arah, warna, tanaman, hingga tata ruang memiliki makna yang menyatu antara adat budaya, agama, filosofi, dan kesadaran bernegara. Imah 8/9 dibaca sebagai satu kesatuan utuh: dari depan, tengah, dalam, hingga belakang rumah—semuanya saling menyambung dan saling menjelaskan.

Makna Angka 8 dan 9: Jalan Hirup Nu Munggah
Angka 8 dalam pemaknaan Sunda melambangkan kasaimbangan—keteraturan hidup yang berpijak pada kerja, usaha, dan keselarasan hubungan. Bentuknya yang saling bertaut mencerminkan kesinambungan tanpa putus.
Angka 9 melambangkan kasampurnaan jeung hikmah—tahap kedewasaan, keluasan rasa, dan puncak pengalaman hidup. Dalam laku spiritual, 9 adalah simbol kebijaksanaan yang lahir dari proses panjang.
Digabungkan, Imah 8/9 bermakna:
Hirup nu saimbang, terus munggah kana kasadaran anu leuwih jembar.
Dua Rumah Kiri–Kanan, Pagar, dan Tembok Hijau di Tengah
Keberadaan dua rumah di sisi kiri dan kanan melambangkan dua penjuru kehidupan: diri dan lingkungan, pribadi dan sosial. Pagar pintu di kiri dan kanan menandakan kontrol diri—tidak semua hal boleh keluar-masuk sembarangan.
Di tengah, terdapat pagar tembok yang ditumbuhi tanaman hijau merambat: dolar, melati, dan sri rezeki. Ini adalah simbol penting dalam kesundaan:
- Tanaman dolar: kelancaran rezeki yang dijaga dengan usaha dan kesabaran
- Melati: kesucian niat dan kebersihan hati
- Sri rezeki: keberkahan, kecukupan, dan keteduhan
Tembok yang ditumbuhi tanaman menunjukkan filosofi:
Wates hirup ulah matak garing, kudu aya kahirupan nu ngalembutkeun.
Halaman Depan, Rumput Hijau, dan Dua Garasi
Halaman depan dengan rumput hijau melambangkan kasuburan jeung harepan. Rumah tidak berdiri kaku, tetapi bernapas bersama alam.
Dua garasi di kiri dan kanan bermakna kesiapan menghadapi mobilitas hidup—ikhtiar duniawi yang tetap tertata. Kendaraan disiapkan, tetapi tidak mendominasi ruang utama. Ini menandakan prinsip:
Dunya dipaké, lain pikeun dipuja.
Warna Rumah dan Material Depan: Coklat, Putih, Abu-Abu
Warna dalam rumah Sunda bukan pilihan estetika semata, tetapi simbol nilai.
- Coklat pada rumah melambangkan bumi—kerendahan hati, keterikatan pada tanah, dan sikap membumi.
- Putih pada tembok mencerminkan niat bersih, kejujuran, dan keterbukaan.
- Ubin abu-abu pada dinding depan melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan antara hitam dan putih—tidak reaktif, tidak berlebihan.
Pintu pagar masuk dari semen melambangkan keteguhan:
Léngkah kahirupan kudu boga dasar nu pageuh.
Tempat Sampah di Depan Rumah: Élmu Miceun Nu Teu Merenah
Dalam kesundaan, tempat sampah di depan rumah bukan aib, tetapi simbol kedewasaan hidup. Ia mengajarkan:
- memilah yang berguna dan tidak,
- berani membuang yang kotor sebelum masuk ke dalam.
Maknanya jelas:
Sateuacan asup kana rasa jeung pikiran, runtah kudu dipiceun heula.
Bagian Dalam Rumah: Ruang Tanpa Sekat dan Tiga Kamar
Bagian dalam rumah tanpa sekat antara ruang tamu, ruang tengah, dapur, dan meja makan melambangkan hirup nu teu nyumput—kejujuran dan keterbukaan dalam keluarga.
Dapur sebagai pusat rezeki menyatu dengan ruang berkumpul, menandakan kebersamaan dan rasa syukur. Kamar mandi di dalam rumah melambangkan kesadaran akan kebersihan lahir dan batin.
Tiga kamar berderet melambangkan tatanan hidup dan generasi:
- orang tua (nilai),
- anak hari ini (proses),
- masa depan (harapan).
Angka tiga adalah simbol keseimbangan: niat, ucap, dan laku.
Bagian Belakang Rumah: Toren, Sisa Barang, Pisang, dan Kolam Ikan
Bagian belakang rumah adalah ruang kejujuran paling akhir.
- Toren air: cadangan kehidupan dan kesiapsiagaan
- Tempat barang sisa: kesadaran bahwa hidup tidak selalu rapi
- Tanaman pisang: kebermanfaatan total—dari akar hingga buah
- Kolam ikan: ketenangan batin dan rezeki yang terus bergerak
Filosofinya:
Nu disumputkeun teu kudu dipupus, tapi diatur supaya tetep aya mangpaatna.

Penutup: Imah minangka Miniatur Bangsa
Imah 8/9 bukan hanya rumah tinggal, tetapi miniatur kehidupan. Ia mendidik penghuninya untuk tertib, bersih, terbuka, bersyukur, dan siap menjadi bagian dari masyarakat dan negara.
Dalam pandangan Sunda:
Lamun imahna cageur, wargana bakal bageur, nagarana bakal
kuat.
(Jika rumahnya sehat dan tertata, maka warganya akan berperilaku baik, dan
negaranya akan menjadi kuat.)
Imah 8/9 adalah rumah yang ngajarkeun hirup—pelan, jujur, dan bermakna.
Terjemahan Makna Ungkapan Sunda dalam Bahasa Indonesia
Agar nilai-nilai kesundaan dalam artikel ini dapat dipahami lebih luas, berikut terjemahan dan penjelasan ringkas ungkapan-ungkapan Sunda yang digunakan:
- Hirup
nu saimbang, terus munggah kana kasadaran anu leuwih jembar
Hidup yang seimbang dan terus meningkat menuju kesadaran yang lebih luas. - Wates
hirup ulah matak garing, kudu aya kahirupan nu ngalembutkeun
Batas dalam hidup jangan sampai membuat kering dan kaku; harus ada kehidupan yang melembutkan. - Dunya
dipaké, lain pikeun dipuja
Dunia digunakan seperlunya, bukan untuk disembah atau dipertuhankan. - Léngkah
kahirupan kudu boga dasar nu pageuh
Langkah hidup harus memiliki dasar yang kuat dan kokoh. - Sateuacan
asup kana rasa jeung pikiran, runtah kudu dipiceun heula
Sebelum masuk ke perasaan dan pikiran, hal-hal kotor harus dibersihkan terlebih dahulu. - Hirup
nu teu nyumput
Hidup yang jujur, terbuka, dan tidak penuh kepura-puraan. - Nu
disumputkeun teu kudu dipupus, tapi diatur supaya tetep aya mangpaatna
Hal-hal yang tersembunyi tidak harus dihapus, tetapi diatur agar tetap memberi manfaat.
Terjemahan ini menegaskan bahwa filosofi rumah Sunda tidak berhenti pada bentuk fisik, tetapi hidup sebagai nilai yang membimbing sikap, adab, dan tanggung jawab sosial penghuninya.