Budaya

Ketika Batik Benar-Benar di Gemari, Kita Harus Tau “Batik Beneran”

Penggunaan Batik bukan sesuatu yang aneh lagi di negara kita, INDONESIA tercinta ini. Hampir setiap saat kita dapat melihat orang menggunakan Batik. Saya salah satunya dari sekian juta penduduk di kawasan NUSANTARA ini yang gemar menggunakan Batik. Sebuah kebanggan dan juga menjadi life style hampir disemua kalangan baik laki-laki ataupun perempuan, tua dan muda serta dari berbagai status sosial.

Bersama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) mengundang teman-teman media dalam acara Media Gathering Batik Worskhop. Saya sebagai blogger dari Komunitas Blogger Indonesia TDB (taudariblogger.info) turut serta berpartispasi mengikuti workshop ini. Bertempat di Synthesis Kemang – Marketing Gallery yang beralamat di Jalan Ampera Raya No. 1 A, Jakarta Selatan 12560 pada hari Sabtu (22/2).

Hadir pada kesempatan ini Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Yantie Airlangga, Ketua Bidang Humas Shanty Apriyanti Pranantyo, Pelaksana Workshop Lila H. Cokronagoro, Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia Komarudin Kudiya, Perwakilan dari Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Ibu Prita dan Managing Director of Synthesis Residence Kemang Thomas Sadikin

Batik Workshop ini di adakan dengan tujuan mensosialisasikan Batik dan menginformasikan pengetahuan tentang apakah itu “Batik Beneran” kepada masyarakat Indonesia pada umumnya melalui artikel ataupun informasi seputar Batik.

Bahwa yang namanya Batik itu adalah prosesnya bukan motif Batik seperti yang diketahui oleh masyarakat Indonesia yang berlantar belakang beraneka macam suku dan adat istiadat. Dalam acaranya ini Pak Komar sekaligus sebagai instruktur “Membatik di Atas Kain Berukuran 50 x 50 cm” agar kita dapat lebih jelas lagi tentang “Batik Beneran” yang menjadi program Yayasan Batik Indonesia untuk sosialisasi ke masyarakat.

“Yayasan Batik Indonesia memiliki inisitif berbagi dengan para pelaku media untuk membantu mensosialisasi batik asli kepada masyarakat umum apa itu “Batik Beneran”,ungkap Shanty sambil menunjukan buku edisi khusus Batik Indonesia dengan tampilan sampul Tambal Kanoan (kain batik tulis Yogyakarta) koleksi Museum Batik Danar Hadi.

Batik Indonesia merupakan wujud dari hasil cipta dan karya seni, diekspresikan pada motif kain untuk pakaian, sarung, dan kain dekoratif lainnya yang dibuat dengan proses mempergunakan “malam”. Awal pengenalan batik di Indonesia melalui proses asimilasi kebudayaan pendatang dari Cina dan India. Kemudian dengan penduduk pribumi. Sejalan dengan berkembangnya nilai sosial dan budaya bangsa Indonesia, Batik hasil karya seni tumbuh dan berkembang menjadi kekayaan Nasional bernilai tinggi.

 “Batik tulis lebih mahal ketimbang Batik tiruan karena dihasilkan dari tangan langsung pembatiknya. Batik tulis dihasilkan dari jerih payah sang pembatik yang memerlukan segenap energinya,” ujar Yantie. Proses pembuatan Batik memakan waktu lama menjadi faktor Batik mahal sehingga seyogianya masyarakat dapat memaklumi alasannya harga yang mahal dari batik tulis ini.

Batik yang mengandung unsur seni, merupakan kerajinan tangan yang dikerjakan oleh para wanita sejak dahulu menggunakan alat yang sederhana canting dan pewarna alami dari tumbuhan. Kegiatan industri berkembang pesat, kemudian batik secara massal dihasilkan melalui proses pembatikan menggunakan cap, pewarnaan pengaruh dari negara maju, tanpa meninggalkan nilai timur yang tinggi dan masih banyak tampak pada unsur pengerjaan tangan secara terampil menonjolkan kehalusan karya seninya.

Masih banyak orang yang tak menyadari ada batik yang memang asli dibuat dengan goresan tangan seniman pembatik dan ada batik yang dibuat dengan proses cetak (printing),” kata Komar

Tantangan yang dihadapi perlunya melestarikan dan meningkatkan nilai tambah. Adanya kekhawatiran diakuinya batik milik budaya negara asing, maka perlu diambil langkah perlindungan pengakuan dan penghargaan di negara asal sendiri. Untuk tujuan itulah tahun 1994 dibentuk suatu wadah yang diberi nama Yayasan Batik Indonesia didirikan pada tanggal 28 Oktober 1994 dijawai semangat Sumpah Pemuda.

“Kami dari Yayasan Batik Indonesia sengaja mengajak media untuk terlebih dahulu mengenal  warisan nenek moyang cara membuat Batik dengan menggunakan canting dan lilin panas selama proses pembuatannya,”ungkap Lila di saat ditemui taudariblogger.info di akhir acara dan menyampaikan agar media turut mensosialisasikan program “Batik Beneran” sebagai penghargaan untuk para pengrajin atas usahanya melestarikan kekayaan leluhur kita. (MS)

Tentang Penulis

berkembang dengan terencana

Tinggalkan Balasan