Film Mortal Engines, Bumi Kacau Balau Akibat Peperangan



+
Mortal Engines, Kisah Bumi Yang Kacau Balau Akibat Perang Nuklir

Satu lagi, dari produksi  studio universal pictures adalah film Hollywood terbaru yang  tayang di bioskop pada minggu pertama bulan Desember 2018. Mortal Engines, sebuah film dengan genre action fantasi,  fiksi dan Ilmiah dengan cerita perlawanan sekelompok orang di masa kekacauan bumi.

Kali ini saya bersama teman-teman kantor untuk nobar di Cinema XXI One Bell Park yang berada di Jl. Rumah Sakit Fatmawati No.1, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Di jam tayang jam 15.30 Studio 1 dengan penonton yang cukup lumayan banyak. Film yang di adaptasi dari novel Philip Reeve berjudul sama. Dengan menampilkan adanya perbedaan dalam kehidupan bumi, yaitu kota kecil dan kota besar. Keduanya memiliki ciri khas yang berbeda dan karakter masyarakat yang tidak sama.

Siapa saja daftar pemerannya. Yuk kita lihat di bawah ini,

Sutradara
Christian Rivers

Produser
Peter Jackson, Fran Walsh, Zane Weiner, Amanda Walker, Deborah Forte

Penulis Naskah
Peter Jackson, Fran Walsh, Philippa Boyens

Pemeran
Hugo Weaving
Hera Hilmar
Robert Sheehan as Tom Natsworthy
Ronan Raftery
Stephen Lang
Jihae
Leila George
Patrick Malahide
Colin Salmon
Rege-Jean Page

Perebutan kekuasaan semakin tinggi di masa apokaliptik. Bumi sudah dibenamkan dengan gersangnya penindasan. Masyarakat bertahan hidup dengan cara saling berebut kuasa. Berpindah ke tempat baru dengan menindas masyarakat yang ada di sekitarnya. Kunci di masa ini adalah bahan bakar.

Pergolakan pun terjadi. Setiap masyarakat yang berkuasa, merasa berhak memiliki dan menindas kota-kota kecil. Kejadian ini dikenal memicu masyarakat yang lemah membangun sebuah kota menggunakan roda dan mesin-mesin bertenaga raksasa. Tujuannya sederhana, agar masing-masing masyarakat di kota tersebut dapat berpindah dengan cepat ketika kebutuhan hidup mereka sudah habis.

Selain itu, cara ini juga disebut efektif untuk menjauh dari kejaran para penindas. Meskipun landasan tempat bumi berpijak sudah berubah, penindasan masih terjadi. Prinsip “Yang kuat menang” jadi pilihan pasti untuk untuk bisa bertahan . Kota dengan mesin yang lebih besar cenderung mudah menaklukan kota kecil dengan tenaga yang kecil pula.

Namun, ada yang berbeda dari semua latar cerita ini. Ada misi yang sedang bergulir di dalam nadi Hester Shaw (Hera Hilmar). Selain bertahan hidup, ia berusaha menemukan kedamaian yang tenang di dalam hati dan pikiran. Sasaran yang diincarnya adalah Thaddeus Valentine (Hugo Weaving).

Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) adalah seorang arkeolog yang mencoba untuk berpikir maju ke depan. Bersama kota raksasanya ia ingin membangun kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia di masa setelah “60 minute war” dan sekarang.

Ia menetap di sebuah kota besar London. Bukan London yang berada di belahan utara bumi. Namun, London yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Benar, bumi sudah tidak bisa ditinggali. Tak ada lagi tanah yang bisa dijadikan sebagai landasan pondasi untuk membangun tempat tinggal.

Tanah-tanah yang tersisa hanyalah tanah yang bisa dikendarai oleh kendaraan dengan roda besar. Didukung dengan mesin-mesin yang merupakan kenangan dari teknologi masa lalu. Busi, iPhone hingga komputer tablet. Apa pun teknologi yang ada di masa lalu dijadikan sebagai sumber pendukung kehidupan.

Satu lagi, Thaddeus harus menyingkirkan kota-kota kecil tanpa nama yang berkeliaran di tanah bumi yang sudah gersang. Keuntungannya, ia bisa mengambil mesin dan teknologi dari kota-kota kecil ini dan membangun impiannya akan kehidupan bumi yang lebih baik.

Pada satu waktu, di saat penjelajahannya “memakan” kota-kota kecil, Thaddeus berhasil meringkus satu kota kecil yang diisi oleh orang-orang tidak berdaya. Namun, ada yang menunggunya di sana. Ia adalah Hester Shaw (Hera Hilmar).

Seorang gadis muda yang selalu menutup wajahnya dengan masker. Selalu bisa menyimpan benda-bendam rahasia di balik pakaiannya. Punya masa lalu yang kelam dan justru dibesarkan oleh makhluk aneh dan mengerikan bernama Shrike, manusia yang diubah menjadi Frankenstein di masa Apocalyptic.

Pertemuan Hester dengan Thaddeus Valentine seharusnya mengejutkan. Namun, kebalikannya, Hester dijatuhkan dengan mudah. Misinya untuk menemukan Thaddeus Valentine tak berhasil.

Namun, Hester bertemu dengan orang-orang baru secara tidak terduga. Ada Tom Natsworthy (Robert Sheehan) pemuda yang tertarik dengan setiap teknologi dan sejarah masa lalu. Ia pun bertemu dengan Anna Fang (Jihae) seorang pemberontak yang tahu betul kisah Hester di masa lalu.

Ditambah lagi, Anna ternyata punya konflik kepentingan dengan Thaddeus. Sang arkeolog ingin sekali membokar rahasia Anna. Masing-masing orang punya kepentingan dan konflik. Namun, ternyata mereka memiliki satu sumber tujuan yang sama

Sebuah benda sakral yang dulunya dimiliki oleh seorang Arkeolog wanita bernama Pandora Shaw. Bisakah Hester menyingkirkan Thaddeus? Atau Thaddeus yang terlebih dahulu menyingkap tabir milik Anna? Apa yang sebenarnya ingin ditemukan oleh orang-orang ini ketika bumi sudah hancur luluh lantah?

Mortal Engines memiliki cerita dengan latar belakang masa-masa apocalyptic. Mungkin selama ini kamu sudah menonton beberapa film dengan latar yang sama. Sebut saja Mad Max: Fury Road atau A Quiet Place jadi film dengan tema kehancuran bumi. Mortal Engines pun hadir dengan latar cerita yang sama.

Namun, yang membedakannya adalah, Mortal Engines punya kekuatan dalam menampilkan fantasi-fantasi liarnya. Apalagi film ini diadaptasi dari novel karya Philip Reeve yang disebut mampu membagi cerita-ceritanya dengan rapi, mengejutkan dengan konflik dan bagaimana ia menuangkan fantasinya dalam sekumpulan tulisan.

Namun, semua tulisan Philip Reeve ini ternyata mampu ditransformasi dengan cukup baik oleh Christian Rivers. Ditambah lagi untuk penulis naskah dan produse film ini ada nama Peter Jackson. Orang yang sukses membangun sebuah fantasi penonton dengan film-film seperti trilogi The Lord of the Rings, The Hobbit atau The Adventures of Tintin. Hal ini yang juga diadaptasi dengan baik di sepanjang film.

Penonton akan dimanjakan dengan gambaran bagaimana sebuah kota bergerak dengan kekuatan mesin dan roda-roda besar. Fantasi tentang hancurnya bumi hingga pakaian dan budaya yang terjadi setelah kehidupan manusia tidak lagi teratur disajikan dengan cukup baik.

Belum cukup sampai di situ, penonton akan dimanjakan dengan fantasi bagaimana pesawat tempur dimodifikasi sedemikian rupa dimasa apocalyptic. Satu hal yang mungkin tidak akan terbayangkan di pikiran penonton. Film ini juga mengajak penonton untuk berfantasi bagaimana seandainya perangkat gawai seperti super komputer atau iPhone tidak lagi ada gunanya.

Tidak seperti film yang diadaptasi dari novel lainnya,Mortal Engines sedikit lebih baik. Penyampaian ceritanya tidak terburu-buru atau asal jadi. Secara tepat film ini mampu menggambarkan setiap momen-momen penting dari karakter-karakter utama film. Bahkan bisa dikatakan penyampaian cerita melalui buku, mampu dirangkum dengan tepat melalui filmnya.

Bahkan ketika film ini menyajikan cerita dengan alur maju-mundur, Mortal Engines masih bisa memberikan kepuasan kepada penontonnya. Menunggu kejutan-kejutan yang sudah disiapkan dari pertengahan hingga akhir film. Ada beberapa twistyang ditampilkan, sayangnya tidak dimaksimalkan dengan baik oleh para pemerannya.

Meskipun Hera Hilmar yang berperan sebagai Hester Shaw jadi pionir di dalam film ini, namun ia terlihat tampil biasa saja. Hanya Hugo Weaving yang sudah dikenal sebagai pemeran antagonis di trilogi Matrixatau Red Skull di film Captain America: The First Avenger yang tampil dengan baik di film ini.

Masih ada nama Jihae yang berperan sebagai Anna Fang seharusnya bisa dimaksimalkan. Namun, kesempatan wanita dari Korea Selatan ini tidak terlalu besar di sepanjang film. Sisanya, terlalu banyak karakter yang dimunculkan membuat beberapa plot film menjadi terasa tidak nyaman untuk ditonton.

Satu lagi, film ini akan sangat kental dengan aksen British. Hampir setiap dialognya tampil “gagah” dan terkesan “arogan” seperti halnya aksen orang-orang Inggris lainnya. Secara keseluruhan, Mortal Enginesmampu menawarkan satu perspektif yang berbeda tentang kehidupan di masa depan.

Peter Jackson dan seluruh tim kreatif yang dibalik layar kompak memainkan fantasi penonton dengan gaya kehidupan manusia di masa kehancuran bumi.

Saksikan Film Mortal Engines di bioskop terdekat anda dan saksikan keseruan serta masa terdepan bumi yang kacau balau akibat perang nuklir. Kesimpulan teman-teman saya setelah menonton Film Mortal Engines , pastinya puas dan tidak membosankan dengan akhir cerita yang menyenangkan serta kemenangan. (MS)

img-20181206-wa0044-5c0989246ddcae4b83269ac2.jpeg
img-20181206-wa0044-5c0989246ddcae4b83269ac2.jpeg
img-20181206-152342-5c098845aeebe10389579f52.jpg
img-20181206-152342-5c098845aeebe10389579f52.jpg

Tinggalkan Balasan