Halaqah Musisi – Ulama Menjadikan Dakwah MUI Untuk Era Generasi Millenial


 +

Halaqah Musisi-Ulama Menjadi Dakwah MUI Era Generasi Millenial

dokumentasi pribadi

Mengenal kata “Halaqah” adalah istilah yang baru bagi saya untuk lebih mempelajari pengertian bahasa Arab yang sudah lazim digunakan oleh kalangan majelis taklim dan telah menjadi resapan bahasa Indonesia.

“Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius yang dilakukan bersama-sama (amal jama’i)”

Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam (KSBI) Majelis Ulama Indonesia menyelanggarakan Halagah Seni Budaya Islam Musisi dan Ulama dengan tema, “Seni Musik Sebagai Wahana Dakwah di Era Generasi Millenial”  yang diadakan pada hari Rabu (31/10) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jalan Proklamasi No. 51, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat.

Hadir dalam acara ini, Wakil Ketua Umum MUI Buya Zainul Tauhid, Ketua Komisi Dakwah Kiai Cholil Nafis, musisi senior, Dwiki Darmawan, beberapa musisi Islam seperti Snada, Justice Voice dan penggiat musk dari berbagai daerah.

koleksi pribadi
koleksi pribadi
Begitu juga hadir Blogger Halal Sahabat TDB (taudariblogger.info) yang berjumlah 10 orang, tidak termasuk saya karena berhalangan hadir. Namun dalam kesempatan ini saya berusaha mengutip informasi dari teman-teman yang hadir untuk dapat kembali saya tulis dan sekaligus memberikan sedikit saran dan pesan.Ketua Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam Habiburrahman El-Shirazy atau biasa di panggil Kang Abik,  “Menyampaikan syukur atas terselenggaranya halaqah seni budaya Islam pertama serial musik. Musik dipilih karena ia paling dekat dengan manusia.” Kang Abik yang merupakan penulis novel berjudul Ayat-ayat Cinta mengatakan, “Seni musik dipilih pada halaqah perdana ini karena manusia sangat sering berinteraksi dengan musik.” Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam mendapatkan amanah dari dewan pimpinan MUI untuk menghidupkan kembali seni budaya Islam di Nusantara dan memanfaatkan musik secara positif.

Menurut Islam seni bukan sekedar untuk seni yang absurd dan hampa nilai (laghwun), keindahan bukan berhenti pada keindahan dan kepuasan estetika. Sebab semua aktivitas hidup tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal.

Pada kesempatan ini Kiai Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI memberikan penjelasan terkait tema kali ini bahwa, “Tugas MUI sekarang ini bukan ringan tapi bahkan sudah komplek dan beragam.”. Perlu melakukan kolaborasi musisi dan ulama.

Ulama adalah orang muslim yang menguasai ilmu agama Islam dan memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al Quran dan As Sunnah.

Namun dalam proses penyampaiannya para ulama perlu melakukan kegiatan dakwah kepada umat tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan oleh akhlak.

Dakwah untuk kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taak kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam. Karena dengan musik penyampaian dakwah ini dapat dengan mudah disampaikan oleh kalangan muda.

Musisi Senior Dwiki Darmawan menyampaikan bahwa, “Saya jadi bergerak untuk kedepannya membantu Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam MUI ini dengan pengalaman yang saya milki untuk memproduseri, mengemas, sehingga layak untuk ditampikan di luar negeri dan Indonesia harus punya festival musik Islami di level Internasional.” 

Untuk memanfaatkan musik secara positif menurut saya diperlukan teknologi agar generasi internet yang mengandalkan media sosial mendapatkan informasi. Kepemilikan perangkat mobile dan komputer menjadi salah satu faktor paling signifikan digunakan oleh generasi ini.

“Generasi millenial atau generasi y merupakan golongan mereka yang lahir pada 1980 — 1990 atau pada awal 2000, dan seterusnya.”

Digitalisasi disini lebih mengacu kepada digitalisasi informasi yang mengandung pengertian proses mengubah berbagai informasi, kabar, atau berita dari format analog menjadi format digital sehingga lebih mudah untuk diproduksi, disimpan, dikelola, dan didistribusikan.

Sejarah Nusantara telah mencatat bahwa para ulama dan para sunan terdahulu sering menggunakan tradisi yang sudah melekat pada suatu masyarkat tersebut, untuk tujuan dakwah.

Mereka menyebarkan agama Islam melalui kesenian-kesenian yang sudah ada, artinya para ulama dan para sunan terdahulu tetap memperhatikan suatu kesenian yang suda ada, kemudian sedikit demi sedikit mereka memasukkan ajaran dakwah pada sebuah cara atau kebudayaan tersebut

Salah itu personil group nasyid yang sangat populer di Indonesia pada masa itu adalah Agus Snada yang mempersebahkan tembang nasyid sebagai apresiasi untuk seni budaya Islam yang berkembang di kalangan anak muda era tahun 1990.

Nasyid adalah salah satu seni Islam dalam bidang seni suara.Biasanya merupakan nyanyian yang bercorak Islam dan mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi, memuji Allah, dan yang sejenisnya.

Biasanya nasyid dinyanyikan secara acappela dengan hanya diiringi gendang. Metode ini muncul karena banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali alat musik perkusi.

Harapan saya agar setelah acara ini dapat terus di agendakan kembali untuk membahasan yang lebih serius agar terwujud cita-cita untuk penyelenggaraan Festival Musik Islam tingkat Nasional dan Internasional.

Sehingga dengan perkembangan yang ada pada era generasi millenial ini akan mewujudkan wahana dakwah melalui seni musik Islam. (MS)

koleksi pribadi
koleksi pribad

Tinggalkan Balasan