Generasi Milenial Menghadapi Dampak Energi Fosil dan Perubahan Iklim


Generasi Milenial Menghadapi Dampak Energi Fosil dan Perubahan Iklim

 Oleh. M.Sobari

 

Mendengar kata-kata, generasi milenial tentunya kita akan berpikir mereka yang selalu aktif di media sosial dan dengan kreatifnya dapat merubah sesuatu yang lama menjadi yang baru seperti halnya keberadaan ojek online atau semuanya yang berbentuk online. Siapa siih sebenarnya generasi ini ? Yuk …kita cari tau…berdasarkan penelitan, generasi milenial adalah kelompok pemuda yang lahir di antara tahun 1980 hingga tahun 2000-an. Tentunya pada tahun 2018 ini, mereka telah berusia antara 18 hingga 38 tahun.

Sangat tepat sekali jika sebuah komunitas menggagas sebuah acara yang bertema tentang masa depan Indonesia. Pastinya kereen niihh… Climate Rangers dan 350 Indonesia…. yaaa betul sekali. Memang tak kenal maka tak sayang…eehm maksudnya apa yaaa….jangan salah paham dulu. Perkenalan saya  dengan komunitas ini … berawal dari di awal puasa Ramadhan 2018. Tentunya ini adalah kesempatan buat kita semua yang terbiasa di dunia komunitas …yaaa apa aja bentuk komunitasnya terkumpul di Sebangsa sebuah platform aktivitas komunitas.  Kita akan maju bersama dengan kolaborasi dan bersinergi. Berkenalan dengan Kak Yasmine dan Kak Irsyad Bahalwan adalah awal kami dari Komunitas Blogger Sahabat TDB taudariblogger.info yang pada saat yang sama ingin menambah wawasan dengan mengikuti kelas “Strategi Perluasan dan Pengelolaan Regional Komunitas”.

Naah.. sekarang sudah paham kan… jadi itulah awalnya kita bertemu dan pada akhirnya kita sama-sama mendukung sebuah diskusi bareng tentang, “Dampak Energi Fosil dan Perubahan Iklim”. Pada  hari Minggu, 27 Mei 2018 di Nutrifood Inspiring Center. Sekalian diskusi kita juga berbuka puasa bersama. Ibadah puasa kita juga akan bertambah pahalanya jika kita dapat turut membahas sesuatu yang penting dan baik  buat negeri kita yaaa… INDONESIA . Telah hadir semua dari kalangan muda baik narasumber dan pesertanya sehingga sangatlah pas sekali jika kita mulai memikirkan negeri tercinta kita yang kaya raya seperti kata mutiara dari pendiri bangsa Ir Sorekarno, “Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam”. Yuk..kibarkan merah putih di setiap hati nurani ini untuk kemajuan bangsa serta generasi yang akan datang.

Dampak Energi Fosil dan Perubahan Iklim

Tema yang sangat berat sekali yang harus di hadapi generasi muda di masa depan. Tentunya dampak energi fosil dan perubahan iklim menjadi tantangan bersama yang harus kita hadapi. Permasalahan yang terjadi di dunia merupakan masalah global yang menjadi tantangan semua negara. Bagaimana dengan keadaan di negeri kita ? Apa yang harus dilakukan ? Yuk… kita berkenalan dengan ahli muda kita ….

DR. Aldry Setiawan Putra, adalah doktor muda kita yang aktif menyuarakan akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Beliau adalah Head of Environmental Health, Globular Health Initiative. Oh iya kita juga ingin tahukan tentang Globular Health Initative (GHI) merupakan sebuah komunitas yang digagas oleh sekelompok anak muda Indonesia yang turut aktif mengembangkan diri ke level global, berjuang menjadi global warrior….menginginkan agar Indonesia memiliki perspektif baru dalam memandang masalah kesehatan dan bisa turut aktif berkontribusi membangun kesehatan Indonesia.

Bagaimana dengan dampak energi fosil ? Bahan bakar fosil merupakan bahan bakar yang berasal dari fosil tanaman dan hewan yang berusia jutaan tahun. Seiring perkembangan jaman, permintaan energi dunia terus meningkat, padahal kita tahu bahwa sumber energi tidak dapat di perbaharui. Apa saja dampak negatifnya ? pastinya pencemaran lingkungan, hujan asam serta berdampak pada kerusakkan bangunan dan tanaman, dampak kesehatan seperti gangguan pernafasan dan terakhir jika terus digunakan akan menipis karena tidak terbarukan, jadi perlunya kita pikirkan sumber energi alternatif yang terbarukan…..

Menurut Aldy, untuk memilih masker melawan polusi udara harus juga diperhatikan agar terlindung maksimal dari polusi udara karena masker yang biasa digunakan di rumah sakit tidak efektif untuk menangkal polusi udara. Syarat masker yang baik adalah cukup ketat menutupi bagian hidung dan mulut. Selain itu masker dengan lapisan karbon aktif akan bisa memberi perlindungan lebih. Kandungan karbon tersebut terbukti bisa menetralisir beberapa jenis racun yang terkandung dalam udara berpolusi. Jadi menurutnya, jangan sembarangan memilih masker….

Waah….semakin luas saja wawasan kita setelah mendengarkan paparkan doktor muda kita ini dan juga bahas tentang perubahan iklim.  Naah…kalau lingkungan kita sudah tidak seimbang lagi pastinya akan menemukan perubahan…..Apa saja perubahannya ? Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan muka air laut, gangguan di sektor pertanian dan ketahanan pangan jadi ancaman di depan mata. Kebakaran lahan menjadi tantangan terberat. Sudah terlalu banyak sebetulnya dampak yang dirasakan. Hanya saja, memang karena dampak yang timbul selalu terkait dengan berbagai penyebab lain, maka lebih sering permasalahan yang ada dianggap sebagai permasalahan lain, bukan permasalahan karena perubahan iklim. “Yaa…sudah jatuh ketiban tangga, lalu masuk got”, ujar Aldy

Kak Yasmine sebagai moderator dalam diskusi ini memberikan pandangannya tentang perubahan iklim ini. “Sudah waktunya cara pandang ini mengalami perubahan dan sudah waktunya pula semua pihak melakukan aksi dan upaya nyata untuk menangani dampak yang muncul dan mengendalikan perubahan iklim supaya tidak semakin parah”. Selanjutnya kita bahas diskusi ini dengan narasumber lainnya…

Adila Isfandiari Alibasya, cewek yang satu ini masih muda dan juga peneliti dari Greenpeace. Yuk…sekilas kita bahas tentang Greenpeace…..GREENPEACE bermula dari sekelompok kecil orang yang memutuskan untuk bersama-sama memprotes pengujian nuklir di Amchitka, lepas pantai bagian barat Alaska. Setelah itu mereka melanjutkan untuk membentuk GREENPEACE dan kemudian melakukan kampanye dengan mengutamakan isu lingkungan. Jadi prinsip dasarnya adalah “Bearing Witness” atau menjadi saksi dan merekam pengrusakan lingkungan. Bagaimana dengan aksi Greenpeace di Indonesia terutama di Kalimantan ? ini bahasan yang engga pernah terpublish oleh media surat kabar di Indonesia…….

Kebutuhan akan energi yang murah menyebabkan kita tidak dapat menghindari penggunaan batubara, namun dampak yang terjadi tentunya sangat mahal yang harus ditanggung oleh anak cucu kita sebagai generasi penerus bangsa ini.  Siklus pemanfaatannya batubara menimbulkan kerusakkan yang tak dapat diperbaiki pada bumi dan manusia di dalamnya. Siklus  hidup batubata mulai dari bawah tanah hingga ke limbah beracun yang dihasilkannyab biasanya disebut sebagai rantai kepemilikan. Rantai kepemilikan ini memiliki tiga rantai utama antara lain, penambangan, pembakaran, sampai ke pembuangan limbahnya.

Tidak itu saja yang terjadi dampak dari penambangan batubara, namun ada lagi yang terjadi di Kepulauan Karimun Jawa, sebuah kawasan Taman Nasional yang merupakan kawasan konservasi untuk terumbu karang. Pendistribusian batubara dari Provinsi Kalimantan Timur ke Pulau Jawa dengan menggunakan tongkang yang beratnya beratus-ratus ton, pada tahun 2017 tercatat beberapa kali melakukan kerusakkan terumbu karang baik yang tidak disengaja maupun di sengaja karena tongkang diparkir di kawasan ini.  Kerusakkan terumbu karang di Karimunjawa sudah berulang kali diadukan, tapi jarang ditanggapi meskipun kerusakkan ini sudah mencapai luas 1.660 meter persegi.  Apakah kita hanya berdiam diri saja…..?

 

Atasi Bersama Dengan Kolaborasi Antar Komunitas.

Kolaborasi antar Komunitas tentunya menjadi solusi bersama dalam mengatasi masalah yang terjadi dengan linkungan hidup ini terutama yang terjadi di Indonesia. Bagaimana mana dengan pendapat para peserta diskusi…….

350 Indonesia, adalah sebuah komunitas yang sangat peduli mengkampayekan akan bebas energi fosil melalui transisi yang adil dan segera menuju 100% energi terbarukan. Mewujudkan masa depan bebas energi fosil merupakan langkah nyata penanggulangan perubahan iklim untuk kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang. Salah satu tokoh dari 350org adalah Devin Maeztrim, MEnv beliau adalah salah satu orang yang semangat melakukan gerakan kampaye anti batubara di Indonesia. Berharap kita bersama membangun kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya mewujudkan visi Indonesia Bebas Energi  Fosil dengan fokus pada energi terbarukan.

Kolaborasi ini diwujudkan dengan adanya diskusi yang mengangkat potensi dan tantangan pengembangan energi terbarukan di Indonesia, baik  diinisiasi oleh pemerintah maupun oleh organisasi masyarakat sipil, serta bagaimana energi terbarukan didorong menjadi gerakan nasional.

Tentunya peran generasi milenial ini sangat diperlukan sekali dengan melalui media sosial kita bersama menyuarakan akan keselamatan lingkungan hidup di Indonesia. Kita tidak bisa sendiri dan harus bersama kita lakukan. Komunitas Sahabat TDB taudariblogger.info turut serta mendukung aksi kampaye ini dan dapat juga mengklik website kami untuk bersama melalui artikel blogger, video dari vlogger dan youtubers serta media online lainnya menyuarakan tentang berbagai hal bagi keselamatan lingkungan sekitar kita. Sangat diharapkan untuk pasang hastek atau tagar di media online kamu seperti di facebook, twiter dan Instagram. #SekarangGueTau #FossilFree #BebesEnergiFosil #PilihYangBersih  #taudariblogger

 

Tinggalkan Balasan