Narasumber sesi ke 2

Peran Jurnalis Film & Pusbangfilm Dalam Menjaga Kearifan Lokal Film Indonesia


Peran Jurnalis Film & Pusbangfilm Dalam Menjaga Kearifan Lokal Film Indonesia.

Indonesia adalah negara besar yang berada diantara dua samudera dan dua benua dengan letak yang sangat strategis tentunya akan banyak masuk budaya dari berbagai bangsa ke Indonesia. Juga sebagai negara kepulauan yang memiliki belasan ribu pulau baik besar maupun kecil serta berbagai bahasa dan dialek daerah yang sangat banyak serta budaya tiap daerah yang beraneka ragam. Namun ada kesempatan ini di hari Rabu, 24 Mei 2017 kami dari Komunitas Sahabat TDB (taudariblogger) diundang hadir untuk Dialog Film Nasional bersama Forum Wartawan Hiburan (Forwan) dan Pusbangfilm, Kemendikbud yang bertemakan “Kearifan Lokal Sebagai Kekuatan Film Indonesia Di Tengah Penetrasi Budaya Asing”. Diskusi ini di adakan di Hotel Santika, KS Tubun Jakarta.

Sahabat TDB

Sahabat TDB

Kearifan lokal seperti kita ketahui merupakan dasar dari lahirnya sebuah kebudayaan yang berdasarkan asimilasi dan evolusi antar masyarakat setempat, dengan kondisi alam setempat, kemudian menjadi sebuah masyarakat dan mengembangkan persamaan elemen dalam masyarakat tersebut menjalani kehidupan mereka hingga akhirnya terbentuklah kebudayaa mereka. Sebelum acara di mulai yang sedianya dilangsanakan jam 9.00 pagi, saya bersempatan dan berkenalan dengan teman-teman jurnalis film dan juga peserta dari mahasiswa salah satunya dari UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan. Mereka bersama lima mahasiswa lainnya turut serta meramaikan jalannya diskusi ini, salah satunya bernama Arini, dia mengatakan baru pertama kali ikut serta dan sangat berharap agar ada diskusi ini lagi untuk dapat turut serta berpartisipasi menjaga kearifan lokal sebagai kekuatan Film Indonesia di tengah penetrasi budaya asing.

Narasumber Dialog Film Nasional

Narasumber Dialog Film Nasional ko

Dalam diskusi ini, saya sangat tertarik dengan pembicara Tino Saroenggalo, dalam pembahasan ini beliau sangat aktif sekali menjelaskan berbagai hal tentang kearifan lokal yang terkandung di dalam Film Indonesia. Tentunya pembahasan yang menarik harus di lanjutkan di diskusi lainnya karena membahas permasalahan bangsa tentunya harus kontinyu dan berkesinambungan serta harus dilakukan kita bersama.

Salah satu dampak dari perkembangan telekomunikasi dan transportasi dunia yang begitu pesat ini adalah interaksi antar negara menjadi sangat cepat. Artinya interaksi antar budaya antar bangsa juga semakin tinggi. Apalagi dengan perkembangan dunia digital yang tercermin dalam berbagai platform termasuk internet dan media sosial. Perlindungan budaya menjadi semakin rentan kalau pemerintah tidak bisa memperkuat kebudayaan bangsa sendiri, baik secara nasional akan maupun lokal.

Acara diskusi ini semakin seru karena adanya forum tanya jawab, dimana para peserta ini sangat aktif untuk berdiskusi bagi perkembangan perfilman Nasional. Peran jurnalis Film, sangat dibutuhkan sebagai media promosi yang akan bisa mengangkat seniman, artis dan juga para figuran lainnya untuk dapat terlibat dalam memajukan kearifan lokal dalam Perfilman Indonesia. Acara diskusi inipun merupakan apresiasi dan peran jurnalis Film dalam menghadapi penetrasi budaya asing. Melalui Mas Yayo dan Mas Kicky dari Forum Wartawan Hiburan (Forwan) sangat aktif berperan dalam terselenggara diskusi ini.

Tino Saroenggalo, menyampaikan beberapa pesan melalui tulisannya yang dibagikan kepada peserta dialog film Nasional yang membahas mulai dari Kearifan Lokal, Perekaman = Pelestarian, Film = Alat Cegah, Perkembangan Film dan Peran Pemerintah. Semua dibahas dengan baik didalam tulisan yang disampaikannya dan juga dalam uraian yang di sampaikan sebagai narasumber. Beliau sangat menguasai forum diskusi ini dengan baik dan juga memahami permasalahan yang terjadi dan harus dihadapi jangan basa basi.

Maman Wijaya, Ketua Pusbangfilm, Kemendikbud

Maman Wijaya, Ketua Pusbangfilm, Kemendikbud

Pada akhir sesi pertama ini, saya berkesempatan mewawancarai Maman Wijaya, Ketua Pusbangfilm (Pusat Pengembangan Film) Kemendikbud, bersama dengan teman-teman blogger dan jurnalis lainnya. Beliau menyampaikan, “Konkretnya kita akan menyesuaikan peraturan-peraturan yang sudah ada dan masih perlu penyesuaian. Kemudian yang belum ada peraturannya kita buat. Kita juga akan mendorong pengusaha untuk membuat bioskop dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah. Kualitas film juga harus ditingkatkan”.

https://www.instagram.com/p/BUgmnZXDHOl/?r=wa1

Pemerintah melalui Pusbangfilm menyampaikan dukungannya melalui,
1. Regulasi melalui pelayanan yang cepat, tepat dan tanpa pungutan biaya.
2. Juga peningkatan kompetensi perfilman melalui workshop atau lokakarya yang di selenggarakan pemerintah dan masyarakat.
3. Appreasi melalui penyelenggaraan festival yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas di daerah.

Dalam menghadapi kearifan lokal dan penetrasi budaya asing, perlunya Film di lihat dari 2 sisi
1. Alat Penetrasi Budaya
2. Cerminan Budaya
Film dapat di gunakan sebagai propaganda untuk kearifan lokal kepada dunia Internasional. Film juga harus banyak, menarik juga syarat lainnya harus di tonton. Pemerintah juga membantu dalam menerjemahkan atau translate bahasa asing ke bahasa Indonesia.

Narasumber lainnya, Ichwan Persada juga menyampaikan di dalam tulisan yang dibagikan kepada peserta tentang, “Film Indonesia di Tengah Gempuran Penetrasi Budaya Asing Sebuah Catatan”. Fenomena yang paling menonjol pada kurun waktu ini adalah terjadinya proses globalisasi yang disebut Alvin Toffler sebagai gelombang ketiga. Setelah berlangsungnya gelombang pertama dalam bidang Agrikultur dan gelombang kedua dalam bidang Industri. Globalisasi menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari lagi.

Harapan kami sebagai masyarakat, agar senantiasa kita turut serta berperan dalam rangka memajukan perfilman nasional dan turut serta menonton di bioskop yang ada, agar kemajuan ini juga dapat di tingkatkan kualitas film dan promosinya dengan baik. Kita percaya kearifan lokal kita masih tetap terjaga dengan baik, jika kita mau bersama mencegah gempuran penetrasi budaya asing. Yuk….Semangat Merah Putih dan Pancasila harus kita perjuangkan agar persatuan dan kesatuan NKRI tetap terjaga dengan baik karena semua tertuang dalam kearifan lokal yang terjadi terus menerus di Indonesia.

 

Foto Bersama Forwan

Foto Bersama Forwan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>