FB_IMG_1469585692830[1]

Stasiun Mampang Aktif, Solusi Antrian KRL Menuju Stasiun Manggarai


Stasiun Mampang Aktif, Solusi Antrian KRL Menuju Stasiun Manggarai.

Sudah menjadi pembicaraan yang rutin, mengenai antrian KRL menuju Stasiun Manggarai bahwa tidak saja gangguan yang terjadi namun padatnya jalur masuk ke stasiun ini. Apa yang menarik dari diskusi ini yang juga dalam rangka halal bi halal para pengguna Commuterline di Jabodetabek. Tahun depan akan ada KA Bandara Soeta yang akan menjadi pilihan pengguna transportasi umum yang memilih apa yang diinginkan untuk menuju bandar udara yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang, Banten. Namun apa yang akan terjadi dengan jalur Tangerang – Duri dan Duri – Manggarai. Waahh….keadaan yang penuh tanda tanya. Apa yang akan terjadi ….?

Bersama Dedi Herlambang sebagai moderator yang di adakan oleh ASPEKA (Asosiasi Pengguna KA) berlokasi di kantor KPBB (Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel) yang berada di Gedung Sarinah, Lantai 12. Tema yang di bahas mengenai “Polemik Antrian Kronis Stasiun Manggarai”. Ada beberapa narasumber yang sangat terkait dalam hal ini seperti John Roberto, PT KAI Daop 1, Prayudi, Satuan Kerja Dirjen Perkeretaapian dan Agus Pambagio, Pengamat Transportasi. Hari Senin Malam in pada tanggal 25 Juli 2016, tepat jam 17.00 WIB kita mulai membahas dalam kemasan diskusi ringan dan semangat silaturahmi.

Kedatangan Saya dan Ko Gio (Willian Giovani) mewakili blogger TDB (taudariblogger.info) serta ingin melihat kenyataan yang ada dari para ahli-ahli perkeretaapian dalam membahas permasalahan antrian di Stasiun Manggarai. Mungkin kami adalah blogger yang aktif ikut serta dan peduli transportasi umum seperti KRL dan Transjakarta. Memang kedua moda transportasi ini sedang digandrungi masyarakat Jabodetabek. Memang untuk urusan kereta api adalah hal yang selalu ingin saya pahami sejak awal saya berkiprah sejak tahun 2011 di Stasiun Daru.

Kepala Daerah Operasi (Daop) 1 PT KAI, John Roberto mengatakan, masyarakat semakin banyak yang menggunakan kereta rel listrik (KRL). Peningkatan jumlah perjalanan kereta api melonjak tiga kali lipat dari tahun 2012 hingga 2016. Dan jumlah penumpang pun kini sudah menyentuh angka 780 ribu orang per tahunnya. Sementara, kondisi prasarana di Stasiun Manggarai seperti jumlah rel perlintasan tidak bertambah. Hal ini menyebabkan KRL yang akan melewati Stasiun Manggarai harus mengantri masuk.

Data dari tahun 2012 hingga tahun 2016, peningkatan perjalanan KRL mencapai 312 persen. Jika pada tahun 2012 ada 194 perjalanan, di tahun 2016 mencapai 892 perjalanan. Sementara jalur perlintasan tidak ada pertambahan, sehingga penumpang tidak terangkut karena kapasistas tidak terpenuhi.
Pihak KAI pada 2015 sudah menambahkan KRL sebanyak 75 rangkaian. Namun tahun ini pihaknya sudah tidak bisa menambah lagi, ujar John. Namun hanya menambah rangkaian dari 8 kereta menjadi 10 kereta dan 12 kereta.

Satu lagi narasumber yang sangat aktif berkomunikasi dengan saya sejak lama di lintas barat adalah Prayudi, yang dahulu pernah menjadi Kepala Satuan Kerja Jabodetabek, Dirjen Perhubungan, Kemenhub RI. Namun sekarang menempatkan pos barujya sebagai Kepala Seksi Lalu Lintas, Sarana dan Keselamatan Perkeretaapuan, Balai Teknik Perkeretaapian, Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Timur. Tentunya sangat paham dengan keadaan di Jabodetabek pada saat itu, apalagi menyangkut antrian masuk Stasiun Manggarai. Posisi vital stasiun ini dan juga sebagai stasiun transit sangat padat sekali dengan berbagai tujuan mulai dari Tanah Abang, Jakarta Kota, Bekasi, Bogor dan melintas langsung KA Jarak Jauh dan juga sebagai stabling Kereta.

Saat ini pemerintah melalui Dirjen Perkeretaapian, Kemenhub RI akan merenovasi Stasiun Manggarai untuk menambah jalur perlintasan baru untuk mengakomondir jumlah penumpang yang terus bertambah. Melalui kerjasama dengan Jepang di harapkan masalah antrian dapat di minimalisir. Sehingga apa yang di harapkan bersama dapat terpenuhi.

Namun begitu ada masalah baru lagi yang timbul adalah keterbatasan lahan di Stasiun Manggarai. Pembangunan yang rencananya akan selesai pada tahun 2019. Tentunya akan ada relokasi stabling dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Bungur, yang lahannya sudah di siapkan. Mulai Agustus 2016 ini penambahan perlintasan dari 5 menjadi 7 akan segera dikerjakan dan tentunya tidak akan menggangu perjalanan kereta yang ada.

Menurut pengamat transportasi, Agus Pambagio. Permasalahan ini tentunya dapat di atasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kepadatan dan antrian masuk ke Stasiun Manggarai harus menjadi kepentingan bersama terutama pemerintah untuk merealisasikan kerjasamanya dengan Jepang dalam merenovasi Stasiun Manggarai. Integrasi moda transportasi antara KRL dan Transjakarta harus senantiasi sinergi sehingga tidak jika menimbukan masalah baru seperti hadirnya tukang ojek di setiap stasiun. Pertambahan penduduk yang tak terkendali dan tingkat urbanisasi tinggi menjadi permasalahan kota besar,

Pada kesempatan ini saya juga mengusulkan agar Stasiun Mampang yang berada di Jalan Latuharhari, Menteng agar dapat di fungsikan kembali sebagai stasiun pemberhentian KRL sehingga menjadi alternatif pengguna KRL untuk melanjutkan perjalanan ke tujuannya. Dengan terintergrasi dengan bus Transjakarta tentunya menjadi alternatif ketika KRL mengantri menuju Stasiun Manggarai. Untuk jangka pendek saat ini sangat baik dalam mengatasi kepadatan antrian dan menjadi alternatif pengguna KRL untuk lebih cepat menuju tempat tujuan lainnya. Saat sekarang bus Transjakarta telah menyediakan bus feeder di Stasiun Tebet, Stasiun Manggarai dan Stasiun Palmerah. Semua bus feeder ini akan terkoneksasi dengan koridor Transjakarta ke berbagai tujuan di ibukota Jakarta.

Peran pemerintah provinsi DKI Jakarta senantiasa harus tetap mendukung tersenggaranya bus Transjakarta dengan penerapan sistem ganjil genap nomer kendaraan di jalan tertentu agar menjadi solusi mengurangi kepadatan di jalan raya. Pastinya peminat moda transportasi umun yang aman dan nyaman menjadi harapan bersama. Diakhir acara diskusi dengan tanya jawab dengan para narasumber tentunya sedikit banyak kita memahami keadaan yang sesungguhnya dan menjelang jam 19.00 moderator membatasi diskusi ini. Semoga peran serta masyarakat, permasalahan ini dapat ada solusi yang terbaik.

Tinggalkan Balasan