Bimbingan Teknis Pelaku Objek Wisata

Peran Pelaku Wisata di Desa Wisata Banten, Ujung Barat Pulau Jawa


Peran Pelaku Wisata di Desa Wisata Banten, Ujung Barat Pulau Jawa

Perjalanan menuju ke Carita, Anyer, Banten pada hari Selasa (31/5) dalam rangka undangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar) Provinsi Banten yang di sampaikan oleh Sekretaris Disbudpar, Bapak Sapta melalui komunikasi handphone dan dilanjutkan dengan whatsapp sebagai sarana komunikasi yang paling efektif. Saya mendapatkan undangan resmi untuk menghadiri acara tersebut sebagai narasumber dengan tema, Peran Media dalam mengembangkan Pariwisata.

Hotel Wira Carita, Anyer, Banten

Hotel Wira Carita, Anyer, Banten

Hotel Wira, Carita

Hotel Wira, Carita

Undangan sedikit ada perubahan mengenai tanggal menjadi tanggal 31 Mei 2016 hingga 1 Juni 2016 berarti dua hari dan 1 malam di Hotel Wira Carita. Menempuh perjalanan menggunakan KA Patas Merak dari Stasiun Serpong menuju Stasiun Cilegon dengan tarif Rp. 8000. Inilah pengalaman pertama saya menggunakan jalur kereta, konon kabarnya jalur inilah menjadi jalan tembus Belanda pada masa penjajahan dulu untuk mengangkut kekayaan alam Banten. Ada 2 pelabuhan yang menyambung langsung ke melalui jalur kereta api yakni Labuan dan Merak. Waaahh…Indonesia memang kaya raya. Selama di perjalanan saya memperhatikan pemandangan yang masih hijau hingga masuk Stasiun Serang dan dua stasiun lagi menuju Stasiun Cilegon. Sambil memperhatikan Stasiun yang masih minim perawatannya karena toilet gratis yang terpajang pengumuman tanpa tak terawat.

Stasiun Cilegon

Stasiun Cilegon

Setelah turun di Stasiun Cilegon, saya memperhatikan Stasiun yang minim sekali penumpang dan bertanya kepada petugas PKD untuk jadwal perjalanan KA Lokal Patas Merak terakhir menuju Jakarta pada jam 14.20. Setelah memperhatikan dengan seksama, akhirnya menuju keluar stasiun dan hal biasa adalah banyaknya tukang ojek pangkalan yang menawarkan saling berebutan, tapi saya tidak menggunakan jasa tersebut tapi berjalan menuju arah angkot yang berada di dekat Masjid Agung Cilegon. Hal yang menjadi luar biasa adalah kemegahan masjid ini yang sempat saya perhatikan hingga masuk ke dalamnya.

Masjid Agung Cilegon

Masjid Agung Cilegon

Sisi Dalam Masjid Agung Cilegon

Sisi Dalam Masjid Agung Cilegon

Sisi Samping Masjid Agung Cilegon

Sisi Samping Masjid Agung Cilegon

Akhirnya setelah bertanya beberapa orang yang ada disekitar masjid, saya menggunakan angkot rute Cilegon – Labuan yang berhenti di Hotel Wira Carita. Memang perjalanan yang cukup jauh memakan waktu hingga 1 jam lebih. Namun begitu setelah saya perhatikan dengan seksama, bahwa angkot ini sangat jauh sekali rute karena sebaiknya menggunakan bus sedang. Setelah sampai di Pasar Anyar, akhirnya semua penumpang habis dan saya sendiri untuk melanjutkan tujuan. Meskipun terlihat sekali sopir angkot ini tidak begitu ramah dan sedikit emosional, karena mobilnya di lewati oleh angkot yang lain. Lalu sampailah di sebuah SMA Negeri 1, Anyar, Cilegon. Nampak para siswa siswi berebutan naik angkot. Sempat saya bertanya diantaranya mengenai sekolah mereka, karena telah direnovasi dan terlihat sangat baik. Ramah tamahnya mereka untuk menjawab pertanyaan saya satu persatu. Inilah harapan dari wilayah wisata yang sangat perlu ditingkatkan sumber daya manusianya dan mereka harus bangga, bahwa wilayah sebagai tujuan wisata mancanegara.

Sesampainya di lokasi di Hotel Wira, Carita, Anyer pada jam 01.30 meskipun dalam perjalanan sempat berganti angkot yang tidak ingin berlanjut ke tujuan akhir. Di lobby hotel saya bertemu dengan salah satu peserta bernama Pak Joma yang berasal dari Desa Banyubiru di salah satu meja bundar. Selanjutnya satu persatu dari 8 desa berikutnya hadir keseluruhannya. Tampak salah satu desa juga di antar oleh Kepala Desa nya. Bahkan yang menarik lagi adalah seorang dari Suku Baduy Luar, bernama Ahmad dengan ciri ikat kepala berwarna biru, menampilkan hasil karya berupa berbagai produk kerajinan tangan.

Kain Tenun Khas

Kain Tenun Khas

Menjelang jam 19.00 malam untuk acara pembukaan Bimbingan Teknis Pengelola Objek Wisata (Angkatan III) yang dibuka langsung oleh Kadisbudpar Provinsi Banten, Bapak Opar Sohari. Menyampaikan bahwa acara ini sangat baik sekali untuk meningkatkan pengetahuan dalam teknis objek wisata untuk Desa Wisata di Provinsi Banten yang sangat luas ini. Seperti di sampaikan bahwa Menteri Pariwisata RI, Bapak Arif Yahya, yang mantan Dirut Telkom, sangat gemar sekali untuk mengorbitkan berbagai wisata yang ada. Makanya Disbudpar Provinsi Banten memilih kegiatan dalam pengembangan Desa Wisata sebagai sektor yang perlu di gali untuk memperdayakan masyarakat desa sebagai pelaku objek wisata.

Foto bersama Opar Sohari, Kadisbudpar Banten

Foto bersama Opar Sohari, Kadisbudpar Banten

Dalam kesempatan ini kegiatan dibagi dua kelas yang berbeda dengan terbagi empat desa dalam satu kelas sehingga semuanya berjumlah 8 desa yang berada di tiga kabupaten diantaranya Serang, Lebak dan Pandegelang.

Ruang Pertama

Ruang Pertama

Ruang Kedua

Ruang Kedua

Ruang Pertama terdiri dari Desa Sawarna, Desa Carita, Desa Ujung Kulon dan Desa Anyer atau Cikoneng. Dan ruang kedua terdiri dari Desa Pamarayan, Desa Banyu Biru, Desa Cilentung dan Desa Bamdulu/Tambang Ayam. Memang di hari pertama ini diantara mereka tidak begitu saling mengenal. Setelah berkenalan dan dibuka oleh Bapak Opar Sohari, yang merupakan mantan Kadishub Banten, seperti apa yang dituturkan pada saat mengisi pembukaan acara. Senang sekali para peserta dengan terlihat pada saat berfoto bersamaa.

Setelah selesai pembukaan acara ini, saya tidak langsung menuju kamar yang sudah di sediakan oleh panitia yang sangat besar sekali dengan dua tempat tidur, karena memang saya datang sendiri akhirnya dengan leluasanya saya menikmati tidur dengan nyenyak sampai pagi dan sebelumnya kami ngobrol sama jam 00.30. Memang seru sekali dengan berbagi pengalaman dan berbagi ilmu. Salah satunya yang cukup senior yakni Bapak Arnawi dari Desa Tambang Ayam.

Bapak Arnawi, Desa Tambang Ayam

Bapak Arnawi, Desa Tambang Ayam

Beliau bercerita tentang desa yang akan dilalui oleh pipa air dari bendungan Suralaya yang mana kapasitas air akan ditambah dengan pemasangan pipa air. Ada permasalahan tanah yang akan dilewati di bagian bawah tanah mereka dan dimana di bagian atasnya tidak diperkenankan untuk tempat aktivitas warga dengan mengatakan secara langsung sesungguhnya tanah mereka akan di ambil alih oleh mereka sesuai perjanjian yang pernah dilakukan oleh pendahulu mereka pada puluhan tahun yang lalu. Saya mendengarkan dengan seksama dan membantu sedikit ilmu yang saya miliki agar kesejahteraan warga desa menjadi lebih diutamakan. Tidak lupa saya berjalan sedikit ke arah depan pintu lobby untuk mengabadikan ukiran unik.

Ukiran Kayu di Lobby Hotel Wira Carita

Ukiran Kayu di Lobby Hotel Wira Carita

Bercerita hingga larut malam, sambil bersenda gurau dengan teman-teman peserta sangat menyenangkan sekali dan bercerita profesi mereka ada yang sebagai wirausaha buka warung kelontongan, pembuat emping, penjaga pantai di Hotel Malbera, Anyer. Mereka mengatakan jumlah pedagang yang menjajakan jualannya di pantau terlalu banyak sekali dan juga terkadang memanfaatkan ketidaktahuan pengunjung dengan menaikkan harga semaunya. Inilah yang menjadi kekuatiran dari mereka. Hal ini akan berdampak akan Citra buruk bagi warga pelaku wisata di tempat pariwisata Carita dan Anyer.

Keesokan harinya pada hari Rabu (1/6) saya bangun jam 5.45 pagi langsung sholat shubuh dan melihat pemandangan dari jendela Hotel Wira, Carita yang tampak indah.
Pandangan sisi luar Hotel Wira, Carita

Pemandangan Halaman Hotel Wira, Carita

Pemandangan Halaman Hotel Wira, Carita

Namun begitu saya mempersiapkan materi yang akan saya bahas pada jam 8.00 pagi hingga jam 10.00 pagi di ruang pertama terlebih dahulu. Sebelumnya saya bersiap diri dulu untuk mandi air hangat yang segar dan di lanjutkan sarapan pagi bersama teman-teman lainnya.

Panitia bersiap terlebih dahulu memberitahukan saya untuk masuk ruang pertama. Moderator menyampaikan kata-kata pembuka dan juga membacakan profil data pribadi saya. Berhubung sebagai pembicara pertama saya mempersilahkan peserta terlebih dahulu berdoa sebagai awal aktifitas pertama di pagi hari. Menyampaikan presentasi mengenai “Peran Media Dalam Menunjang Pariwisata” Media sosial merupakan sarana yang tepat untuk mensosialisasikan kegiatan Desa Wisata, tentunya dengan melakukan aktivitas Komunitas bersama warga lainnya terkait dengan pengembangan wisata yang dilakukan warga desa. Media sosial juga dapat menyampaikan berbagai kegiatan pariwisata di daerah agar dapat terpublikasi ke seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia. Wilayah Indonesia yang luas akan mudah terjangkau melalui aktivitas peran media sosial yang dilakukan oleh blogger. Pada kesempatan tersebut saya menyampaikan bahwa Komunitas Blogger Indonesia TDB (TaudariBlogger) telah melakukan berbagai kegiatan kreatif dan inovatif berupa aktivitas wisata seperti Wisata KRL dan Wisata Stasiun.

Para Peserta Ruang Pertama

Para Peserta Ruang Pertama

Sehingga saya ada ide agar sebelum membentuk Komunitas Pencinta Exciting Banten, kita semua berkenalan satu sama lainnya dengan berpindah tempat duduk. Ini di maksudkan agar ada saling interaksi dan kesan yang berharga dari pertemuan ini.

Pak Bambang, menjelaskan tentang Desa

Pak Bambang, menjelaskan tentang Desa

Hal yang menarik karena kami sudah berkenalan terlebih dahulu dengan para peserta lainnya dan mudah sekali berinteraksi. Nampak Pak Joma dan Pak Bambang, yang menyampaikan kendala sampah yang tersisa pasca kunjungan wisata di desa. Perhatian pengunjung teramat kurang yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Sampah adalah satu hal yang menyebabkan kurang indahnya pemandangan alam.

Pak Joma, Tokoh Desa Banyu Biru

Pak Joma, Tokoh Desa Banyu Biru

Berbagai alasan yang juga disampaikan oleh para pelaku di Dewa Wisata bahwa harus ada peran pemerintah pusat dan daerah untuk mempromosikan tempat mereka dengan dukungan. Seperti Wisata Tanjung Lesung, Carita, Labuan, Banten sebagai 10 Bali Baru yang di canangkan oleh Kemenpar RI. Sehingga diharapkan infrastuktur jalan ke lokasi ini agar lebih baik dan mudah. Dengan mudahnya transportasi di harapkan dapat menekan biasa transportasi darat yang cukup mahal menuju wilayah barat dari Provinsi Banten. Sebuah harapan lagi agar PT KAI dapat kembali merevitalisasi rel kereta api menuju Labuan dari arah Rangkasbitung yang sudah lama tak berfungsi. Saatnya kita bersama mempublikasikan ke media sosial baik melalui Facebook, Twitter, Instagram, Path, Google Plus, YouTube dan lain sebagainya. Kita kenalkan budaya, kuliner, kekayaan alam dan seni Provinsi Banten, agar sesuai apa yang kita inginkan sebagai Pesona Banten….Exciting.

Ki-Ka, M.Sobari, Sapta dan Wibisono

Ki-Ka, M.Sobari, Sapta dan Wibisono

Peserta Bimbingan Teknis Pengelolah Objek Wisata

Peserta Bimbingan Teknis Pengelolah Objek Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>