IMG-20160301-WA001

Film Pesantren Impian, Inovasi baru MD Pictures


Hari Senin sore ini, tepatnya jam 17.00 sore. Teman-teman KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) telah hadir di lobby CGVBlitz Grand Indonesia -Thamrin , Jakarta Pusat, untuk menyaksikan film Pesantren Impian. Dengan judul bernafaskan Islam menjadikan film ini tentunya mendapatkan daya tarik tertentu dikalangan umat Islam dengan tambahan impian, menjadikan film ini sangat sarat maknanya dengan penuh misteri.

Film Pesantren Impian

Film Pesantren Impian

Film Pesantren Impian yang diproduksi oleh rumah produksi MD Pictures dan diproduseri oleh Manoj Punjabi menjadi film yang menarik dan punya kelas tersendiri tentunya mencari sasaran baru, itulah yang disampaikan oleh sang produser saat press conperense, saat pertanyaan disampaikan oleh Pak Yan, seorang wartawan film yang sudah berpengalaman di kancah perfilman Indonesia.

Teman-teman KOPI yang ikut nobar ini selalu berkumpul terkoordinasi dengan berfoto bersama Manoj Punjabi berlatar belakang flayer film Pesantren Impian dan saling berdiskusi untuk film yang akan ditonton pada jam 17.30. Selanjutnya menyaksikan dengan seksama film ini dengan tampilan pertama antara Iptu. Gultom dan Briptu Dewi. Hal ini menandakan bahwa film ini akan bercerita tentang kriminal yang terjadi. Namun ada kemasan toleransi saat atasannya menyinggung seperti perkataan Iptu Gultom, “Aku ga pernah lihat kau ngaji dan sholat. Semoga Tuhan Kau tak lupa sama kau ya?”.

Briptu Eni yang diperankan oleh Prisia Nasution, memperlihatkan bahwa film menjadi pengalaman dari seorang Polisi Wanita yang senantiasa bertugas di perbagai situasi dimanapun berada. Pesantren menjadi pengalaman spritual dalam mencari seorang pejahat pelaku pembunuhan di Hotel Cristal. Dengan 10 orang santriawati mengikuti kegiatan disebuah pesantren yg berada di sebuah pulau yang dikelilingi laut yang terkadang berombak tinggi. Film Pesantren Impian yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, sementara naskah cerita ditulis oleh Alim Sudio bersama Salim Bachmid, memperlihatkan pemandangan alam yang indah sebagai setting film ini dan juga bagian promosi Pesona Indonesia.

Ketika menonton film Pesantren Impian ini, saya sempat sedikit kaget, karena film berjudul rumah kebajikan menjadi sebuah kisah teror. 10 santriawati saling mencurigai satu sama lain, tidak kecuali polwan yang menyamar sebagai santriawati. Semua menjadi saling menebak siapa pelaku teror pembunuhan tersebut. Film ini sesungguh sudah berhasil mengecoh pikiran dan dugaan saya tentang pelaku sesungguhnya. Beda dengan film horor Indonesia lainnya yang terkadang penonton sudah dapat menebak dari awal siapa dibalik tokoh penjahat.

Keberanian sutradara dan penulis naskah film Pesantren Impian, sangat jeli sekali melihat penonton yang kritis untuk mengkritik film ini. Bahwa MD pictures telah berhasil membuat inovasi baru bagi perkembangan dan kemajuan film Indonesia. Tentunya saya berharap pesan-pesan kebajikan yang ada di film ini menjadi resapan perasaan dan perilaku kita agar senantiasa memahami makna kalimat yang tertuang di film ini dengan baik.

Kita akan bertanya kenapa sebuah pesantren berada di sebuah pulau dengan laut yang terkadang berombak tinggi. Gus Budiman yang diperankan oleh Deddy Sutomo sebagai tokoh pemuka agama dan pendiri pesantren juga terlihat dalam penyelidikan kasus pembuhan ini. Ada pesan kebajikan dalam kalimat yang di sampaikan tokoh ini, “Saya tidak mau mempertaruhkan masa depan seseorang hanya karena kamu salah tangkap”. Namun pada akhirnya tokoh ini menjadi korban pembunuhan yang terjadi di pesantren yang dia dirikan bertahun-tahun.

Dugaan pembunuh dari awal saya sudah duga adalah Umar yang diperankan oleh Fachri Albar. Hal ini sama seperti yang diduga oleh Briptu Dewi. Kecurigaan ini terjadi karena setiap ada kematian, selalu orang yang terakhir berbicara dengan Umar. Siapakah Umar ? Yang selalu menjadi asistem Gus Budiman. Film yang bergendre triller dan religi ini menjadi terus menerus menarik perhatian penonton yang penasaran. Semoga saja menjadi film yang digemari oleh penonton Indonesia dari semua kalangan.

Keramahan dan kepandaian Ustadzah Hanum yang diperankan oleh Sita Nursanti, menjadi orang yang saya kagumin karena menjadi tauladan bagi para 10 santriwati. Sempat tak terpikirkan oleh saya, bahwa dia juga menjadi korban akibat perbuatan sang pelaku teror di Pesaantren Impian yang sampai akhir tidak jelas wujud sesungguhnya. Kalimat Ustadzah Hanum untuk memerangi kesombongan dan takabur seperti, “Manusia paling hebat di dunia pun nggak ada bandingannya sama pencipta-Nya. Minta sama Allah”. Inilah nasehat yang ditujukan buat Briptu Dewi.

Inovasi baru MD pictures didalam film Pesantren Impian sangatlah jelas sekali. Ini merupakan film eksperimen sebagai trobosan baru agar penonton yang menyaksikannya dapat diteruma di semua lapisan masyarakat dan mendidik. Tidak ada tampilan seronok dan sexy, dengan mempertontonkan aurat, adegan intim dan mengumbar kemusyrikan, seperti yang dikatakan
Asma Nadia penulis novel Pesantren Impian. Juga beliau mengagumi blogger KOPI yang selalu fenomena.

Asma Nadia, Penulis Pesantren Impian

Asma Nadia, Penulis Pesantren Impian

Meskipun film Pesantren Impian tidak mengungkap tokoh penjahat pelaku teror pembunuhan ini. Hanya menampilkan seorang wanita dari teman Umar di masa lalunya. Kenapa dia selalu mesteri dan berjubah hitam, serta kabur saat terjatuh ketika membawa bis rampasan yang dikendarainya hampir masuk jurang. Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya terus menerus keluar dari pikirannya saya. Film ini misterius sampai berakhir. Untuk tidak penasaran dapat saksikan film Pesantren Impian di bioskop kesayangan Anda pada tanggal 3 Maret 2016.

One Commentto Film Pesantren Impian, Inovasi baru MD Pictures

  1. Kornelius ginting mengatakan:

    Kalau bukunya mba asma nadia..isinya pasti bagus dan .udah dicerna… Btw.. Penasaran sama filmnya.. :)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>