Para Pembicara di acara Ngopi Sore Bareng Sinar Harapan.

Bersama Sinar Harapan, Bahas Uang Elekronik Pilihan Kita.


Seperti biasanya setelah pulang kerja pada jam 14.00 wib siang ini, saya melanjutkan aktivitas lain sebagai blogger. Berhubung hari Rabu (21/10) masuk shift pagi, tentunya banyak waktu yang bisa dilakukan di luar jam kerja. Ini juga bertepatan dengan acaranya Ngopi Sore Bareng Sinar Harapan, dengan tema Praktis Aman Nyaman Bertransaksi Non Tunai, yang diadakan di Resto Bebek Bengil, Jakarta di The Ubud Building Jl. H.Agus Salim No.132, Menteng-Jakarta.

Meskipun acara dimulai pada jam 14.30, tentunya saya berusaha untuk segera sampai tujuan dan memang tidak begitu sulit dan jalan belum begitu macet dari kantor Citibank di Bapindo Plaza menggunakan Transjakarta di Halte Gelora dan berhenti di Halte Sarinah. Tapi sayang sekali rutenya harus berbalik arah lagi karena ketidak tersedianya Halte Plaza Indonesia yang ditutup oleh proyek MRT (Mass Rapid Transportasi).

Setelah sampai dilokasi, saya menuju ke meja penerima tamu untuk registrasi dan memberikan kartu nama. Meskipun telat 30 menit tetapi belum dimulai acaranya. Melihat sekitar resto yang bernuansa Bali, sungguh nyaman dan asri. Kita seolah-olah dibawah ke tanah para dewa, demikian juga setting ruang dari Resto Bebek Bengil ini. Menyantap hidangan kue dan minuman teh hangat yang tersedia yang juga pilihan saya selain tersedia es krim, kopi dan air putih.

Acara Ngopi Sore Bareng Sinar Harapan, ini juga menghadirkan pembicara-pembicara dari Bank Indonesia di wakili oleh Riki Satria, Direktur Elektronik BI , Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di wakili oleh Dana Febriyanto, Direktur Group Peraturan LPS, PT Bank Negara Indonesa, Tbk diwakili oleh Ryan Kiryato yang menggantikan Anggoro Eko Cahyo, yang berhalangan hadir dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) diwakili oleh Jeffry Cho.

Semakin berkembangnya media sosial yang terjadi sekarang ini tentunya semua orang tidak kesulitan untuk mengakses informasi dan berkomunikasi. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbesar nomer 4 di dunia, menjadi sasaran yang tepat untuk perkembangan internet. Bahkan jumlah handphone melebihi jumlah penduduk yang ada sekarang sebanyak 350 jutaan. Padahal jumlah peduduk Indonesia per 2014 adalah sekitar 250 juta jiwa. Inilah bonus demography yang sesungguhnya terjadi seperti yang dituturkan, Riki Satria.

Perkembangan transaksi yang ada di Indonesia, diperlukan sebuah cara yang praktis, aman dan nyaman yakni dengan adanya uang elektronik atau e-money, sehingga dapat dilakukan transaksi non tunai. Jadi mengapa harus non tunai diantaranya sebagai berikut, mengurangi biaya pengelolaan uang tunai, membantu usaha pencegahan dan identifikasi kejahatan, pembayaran yang aman, praktis dan effisien, serta mengakomondasikan peningkatan bisnis e-comerce. Salah satu manfaat e-money adalah meningkatkan inklusi keuangan. Penjabaran Ryan Kiryanto, dari PT Bank Negara Indonesia, Tbk. , sangat jelas dan padat ditambah dengan kata-kata berbahasa jawa yang lucu dan menambah suasana tidak kaku. Disamping itu juga menjelaskan tantangan dan peluang inklusi keuangan Indonesia diantaranya adalah Negara Kepulauan, Kendala infrastruktur, Tingkat pendidikan yang masih rendah, Komposisi masyarakat berpendapatan rendah dan masih tinggi penetrasi teknologi telekomunikasi yang lebih baik.

Berbagai sisi keuntungan yang tentunya diperlihatkan dari sistem pembayaran yang dilakukan sekarang dengan menggunakan e-money, pastinya ada berbagai hal yang perlu diantisipasi seperti halnya adanya pemalsuan (fraud) ataupun cara yang tidak aman lainnya yang perlu dicermati bersama, demikian yang sampaikan oleh Jeffry Cho.

Perlu juga kita ketahui bahwa untuk menjamin simpanan nasabah bank. Pemerintah mendirikan LPS (Lembaran Penjamin Simpaan) melalui UU No.24 Tahun 2004. Fungsinya, menjamin simpanan nasabah dan turut aktif dalam stabilitas sistem pembayaran sesuai dengan kewenangannya. Penjelesan yang dilakukan oleh Dana Febriyanto secara singkat dan padat.

Moderator beberapa kali memotong pembicaraan narasumber mengingat waktu yang sangat terbatas, tetapi juga ada sesi tanya jawab seputar transaksi keuangan non tunai baik dengan menggunakan EDC (Electronic Data Capture) dan juga beberapa resikonya. Juga pada akhir acara tersebut Daud Sinyal dan Mei Fong Chin dari Sinar Harapan, berkesempatan hadir kedepan untuk memberikan beberapa hadiah doorprize bagi para pemenang yang terpilih melalui undian. Tentunya saya sangat berterima kasih sekali kepada Sinar Harapan yang telah membuat acara Ngopi Sore Bareng ini menjadi yang hal menarik dan semoga uang elektronik ini menjadi pilihan praktis, aman dan nyaman bagi masyarakat Indonesia.

Ngopi Sore Bareng Sinar Harapan

Ngopi Sore Bareng Sinar Harapan

Tinggalkan Balasan