Mencari-Hilal-e1434339536328-200x290

Mencari Hilal, Kisah Layar Lebar Dengan Pesan Islami.


Mencari-Hilal-e1434339536328-200x290Saat pertama di undang oleh sebuah Group Blogger di facebook, mengenai nonton bareng untuk sebuah film berjudul : Mencari Hilal. Terbesit dipikiran saya adalah salah satu cara menentukan masuknya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun setelah menyaksikan film tersebut secara utuh dari awal hingga akhir. Tentunya banyak pesan positif dan kritikan buat pemerintah serta kondisi Indonesia yang sesungguhnya dengan ciri khas Islam di tanah Jawa khususnya di Yogyakarta.

2015-07-05 14.19.38Saat menanti di mulainya film tersebut, Saya beserta pengunjung nonton bareng yang lain menanti di lobby Cinema XXI Pejaten Village. Berkenalan dengan seorang Wartawan Tempo, bernama Mba Ratna yang mengkhususkan penulisan untuk seni khususnya kontemporer dan saat itu juga bertemu Mas Unggul, teman blogger saat kami sedang berbicang tampaknya dibelakang terdengat suara khas yakni Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim saat diwawancarai Metro TV, setelah wawancara tersebut saya berkesempatan bertemu beliau. Dan saat bersama itu juga saya bertemu dengan Pengacara Senior Bapak M.Assegaf dan kami sempat berbincang-bincang dengan beliau serta berfoto bersama.

2015-07-05 12.05.55Tidak berapa lama lagi dimulai acaranya di studio 2 dan dibuka oleh para mereka yang terlihat pada pembuatan Film Mencari Hilal diantara Sutradara, Pemeran Utama dan Produser. Sungguh sebuah hasil film dengan kerja bareng diantaranya adalah ProduksiMVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, Mizan Productions.

Sebelum kita semua menyaksikan film tersebut ada pernyataan yang di sampaikan oleh Mas Ismail Basbeth, Sang Sutradara Mencari Hilal. Sebagai seorang Muslim, berdarah Arab dan besar didalam lingkungan budaya tradisi Jawa. Bahwa film adalah penyelamat dalam berkomunikasi yang baik dalam mengutarakan pendapat dan pemikiran.

Kisah film ini dimulai dari warung kelontong Pak Mahmud yang dibintangi oleh Dedi Sutomo, yang berprinsip bahwa berdagang itu adalah ibadah artinya kita harus jujur dan tidak mempermainkan harga dan ukuran. Jika barang rusak jangan dijual kecuali jika memang konsumen mengetahui hal ini dan ikhlas membelinya meskipun terjadi barang yang sedikit rusak. Ada lagi seorang pembeli ingin memborong seluruh beras dari warung Pak Mahmud, tetapi beliau tidak berkenan karena dikuatirkan konsumen lainnya yang membutuhkan tidak bisa mendapatkan beras tersebut.

Kisah-kisah Islami berikutnya terjadi adanya musyawarah para pedagang di rumah Pak Mahmud karena menyesuaikan harga agar tidak menjual dengan harga yang terlampau tinggi dan akan mempersulit pembeli. Namun nasehat dari Pak Mahmud tidak di gublis. Akhirnya pertemuan itu diakhiri dengan kekesalan para hadirin yang meninggalkan Pak Mahmud seorang diri.

Semakin kita menyaksikan film ini secara utuh baru terasa, apa yang menjadi harapan dan tujuan Pak Mahmud, ketika mendengar bahwa pemerintah mengeluarkan biaya besar hanya untuk menentukan mulai puasa Ramadhan pada sidang Isbat.
Akhirnya beliau teringat ketika menjadi santri di pesantren dahulu dengan tekad yang luar biasa ke esok harinya Pak Mahmud berkeinginan bertemu dengan teman lamanya. Ternyata tidak sekedar tekad saja bahwa perjalanan itu sangatlah tidak mudah dan penuh rintangan. Ditemanin oleh anak bungsunya bernama Heli yang diperankan Oka Antara. Seorang artis muda yang sangat berbakat dan sangat memahami perannya karena diantara ayah dan anak ini telah terjadi berbedaan dan bertentangan dalam sikap dan idealismenya. Tentunya disinilah hikmah terdalam dari film Mencari Hilal ini. Semua selalu berakhir dengan sesuatu kepuasan dan keikhlasan.

Ketika film ini berlangsung, saya sempat berdiskusi dengan wartawan. tempo. Mba Ratna yang kebetulan posisi tempat duduk kami bersebelahan yakni pada bagaia A11 dan A12. Sebuah posisi teratas dan sangat strategis kami menyaksikan setiap kisah-kisan dan pesan-pesan yang ada di dalam alur cerita film ini.
Ketika saya bertanya bagaimana caranya untuk penulis di tempo, apakah tulisan yang disampaikan ke reduksi perlu ada moderasi lagi atau tidak. Ternyata tulisan ketika terbit harus melalui proses editing dahulu agar sesuai dengan ciri khas dari media tersebut. Tetapi inilah kelebihan blogger yang bisa menulis dalam sebuah blog yang merupakan hasil pikirannya yang bisa langsung di publish. Tetapi inilah sebuah pekerjaan yang dibutuhkan konsekuensi dan profesionalisme.

2015-07-05 13.45.21-1Ada dalam kisah berikutnya yang belantar belakang budaya jawa yang sangat kental sekali. Dimana sebuah kepentingan politik selalu saja menjadi dominasi kehidupan yang sulit dihindari. Perjalanan mencari seorang teman lama Pak Mahmud, yang juga pernah menjadi santri di pesantren yakni Pak Arifin, yang diperankan Toro Margens. Ternyata nilai-nilai santrinya sudah mulai luntur akibat desakkan kerakusan kekuasaan duniawi. Tak menghirauikan keinginan Pak Mahmud, untuk ikut serta mencari menara dimana pada masa menjadi santri dahulu sebelum pesantrennya bubar untuk melihat hilal agar dapat menentukan saatnya Idul Fitri tiba. Namun tekad mencari menara atau sering disebut tower hiro yakni sebutan pada masa penjajahan Jepang.

Film Mencari Hilal, sangatlah baik sekali disaksikan secara utuh agar kita dapat mengenal pesan-pesan Islami yang tertuang di dalam film religi ini. Saat berakhirnya film tersebut, saya sempat berjumpa dengan pemeran utamanya Pak Dedi Sutomo dan Oka Antara. Keduanya sangat mendalami peran yang dibawanya. Semoga dengan lauchingnya film ini pada bulan Ramadhan, menjadi sebuah perubahan untuk kehidupan kita dimasa depan.

2015-07-05 11.29.13

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>